
JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, mengingatkan generasi muda agar tidak bergantung sepenuhnya pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kemampuan berpikir kritis, mengevaluasi informasi, dan menciptakan pengetahuan dinilai akan menjadi faktor yang membedakan manusia dengan mesin.
Pesan tersebut disampaikan Stella di hadapan sekitar 240 penerima beasiswa Tanoto Foundation dalam kegiatan Tanoto Scholars Gathering di Riau Kompleks PT RAPP, Pangkalan Kerinci, Riau, Kamis (23/7). Dalam paparannya, ia mengulas berbagai hasil riset mengenai dampak penggunaan AI terhadap pendidikan, dunia kerja, hingga keberlanjutan pemanfaatan sumber daya.
Menurut Stella, kecanggihan AI tidak serta-merta menggantikan peran manusia selama pengguna tetap mampu menilai apakah informasi yang dihasilkan teknologi tersebut benar, akurat, dan relevan.
"Secanggih-canggihnya AI, kalau kalian bisa menentukan apakah luaran dari AI itu benar atau tidak, akurat atau tidak, bagus atau tidak, kalian tidak akan tergantikan," kata Stella.
Ia menekankan bahwa proses belajar tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada AI. Pengalaman menjalani proses berpikir dan memecahkan persoalan secara mandiri dinilai penting untuk membangun kemampuan analisis serta membedakan informasi yang valid dari yang keliru.
Lebih Kritis
Dalam kesempatan itu, Stella juga mengajak peserta melihat perkembangan AI secara lebih kritis. Ia menyinggung berbagai fenomena economic bubble dalam sejarah, seperti Dutch Tulip Bubble pada abad ke-17 dan dotcom bubble pada awal perkembangan internet, sebagai pengingat bahwa euforia terhadap suatu teknologi perlu disikapi secara rasional.
Selain itu, Stella mengungkapkan bahwa penggunaan AI membutuhkan konsumsi energi dan air dalam jumlah besar. Berdasarkan berbagai hasil riset yang dipaparkannya, kebutuhan energi pusat data AI diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang sehingga menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan dalam pengembangan teknologi tersebut.
Di bidang pendidikan tinggi, Stella menilai kehadiran AI menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk memperkuat perannya. Ia menyebut kampus perlu berfokus pada tiga fungsi utama, yakni menciptakan pengetahuan baru, mentransmisikan pengetahuan, serta mengkurasi informasi agar tetap memiliki relevansi di era digital.
Menurutnya, kemampuan tersebut akan menentukan keberlanjutan pendidikan tinggi sekaligus memastikan lulusan memiliki nilai tambah yang tidak mudah digantikan oleh perkembangan teknologi.
Pada tingkat individu, Stella juga mengingatkan bahwa berbagai penelitian menunjukkan penggunaan AI secara berlebihan dapat mengurangi kemampuan berpikir mandiri karena pengguna menjadi terbiasa mengandalkan jawaban instan. Karena itu, ia mendorong mahasiswa dan pelajar memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses belajar.
Sementara itu, Tanoto Foundation menegaskan komitmennya dalam menyiapkan generasi muda melalui Program TELADAN (Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan). Program tersebut tidak hanya memberikan dukungan pembiayaan pendidikan, tetapi juga pembinaan kepemimpinan dan pengembangan keterampilan selama masa studi. Pendaftaran TELADAN Cohort 2027 telah dibuka sejak 1 Juli dan berlangsung hingga 7 September 2026.