
JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bukan sekadar kegiatan penyambutan peserta didik baru, tetapi menjadi momentum untuk membangun karakter serta membiasakan pola hidup positif sejak awal memasuki lingkungan pendidikan.
Hal tersebut disampaikan Atip saat meninjau pelaksanaan MPLS di SMP Negeri 57 Jakarta, Senin (13/7). Menurutnya, fokus utama MPLS adalah membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengenal sistem pembelajaran, guru, tenaga kependidikan, serta menjalin pertemanan dengan sesama siswa.
"MPLS merupakan program rutin yang bertujuan memperkenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru. Penekanannya adalah proses adaptasi agar mereka mengenal sekolah, guru, serta teman-teman barunya dengan baik," kata Atip.
Ia menjelaskan, tema utama MPLS tahun ini adalah penguatan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketujuh kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih awal. Menurut Atip, sebagian besar kebiasaan tersebut justru berlangsung di lingkungan keluarga.
"Sekitar 80 persen dari tujuh kebiasaan itu dilakukan di rumah. Karena itu, kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi hal yang sangat penting agar proses pembentukan karakter berjalan optimal," ujarnya.
Wamendikdasmen juga mengingatkan seluruh sekolah agar pelaksanaan MPLS tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku. Ia mengatakan pemerintah telah menetapkan aturan, mekanisme pengawasan, hingga sanksi apabila ditemukan penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia berharap seluruh rangkaian MPLS berlangsung sesuai tujuannya sebagai sarana pengenalan lingkungan sekolah yang aman, edukatif, dan menyenangkan bagi peserta didik baru.
Atip juga memberikan pesan kepada organisasi siswa intra sekolah (OSIS) agar berperan aktif membantu peserta didik baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Menurutnya, OSIS menjadi bagian penting dalam memperkenalkan kehidupan sekolah sekaligus memberikan contoh mengenai organisasi dan kehidupan bermasyarakat.
Menanggapi adanya laporan mengenai penurunan jumlah peserta didik baru di sejumlah sekolah dasar, Atip mengatakan kondisi tersebut tidak terjadi secara merata. Menurutnya, terdapat sekolah yang mengalami penurunan jumlah siswa, sementara sekolah lain justru masih menerima pendaftar dalam jumlah tinggi.
Ia menambahkan, pemerintah telah menyiapkan kebijakan regrouping bagi sekolah dasar yang secara konsisten mengalami penurunan jumlah peserta didik karena berbagai faktor.
"Ada beberapa sekolah yang memang jumlah siswanya terus menurun. Untuk kondisi seperti itu, pemerintah memiliki kebijakan regrouping agar penyelenggaraan pendidikan dapat berlangsung lebih efektif," kata Atip.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berharap pelaksanaan MPLS tahun ajaran 2026/2027 dapat menjadi awal yang baik bagi peserta didik baru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah sekaligus memperkuat pembentukan karakter melalui sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.