Kementerian Kebudayaan Luncurkan Sayembara Film Kepahlawanan 2026, Angkat Sejarah Perjuangan ke Layar Lebar

AKM • Monday, 13 Jul 2026 - 07:41 WIB
Kementerian Kebudayaan resmi membuka Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia 2026 

JAKARTA – Kementerian Kebudayaan resmi membuka Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia 2026 sebagai upaya mendorong lahirnya karya sinema bertema sejarah yang mengangkat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada periode 1945–1950. Program yang dilaksanakan melalui mekanisme sayembara ini diharapkan dapat memperkuat memori kolektif bangsa sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda melalui medium film.

Peluncuran program yang digelar di Jakarta, Kamis (9/7), mengusung tema "Menyulam Ingatan, Merawat Kebangsaan: Menghidupkan Peristiwa Sejarah 1945–1950 dalam Sinema Kontemporer". Tema tersebut menjadi landasan bagi pengembangan film-film yang memadukan kreativitas artistik dengan akurasi sejarah.

Fadli Zon mengatakan film memiliki peran penting sebagai media edukasi sekaligus sarana pelestarian sejarah. Menurutnya, negara perlu memberikan dukungan terhadap produksi film bertema sejarah agar semakin banyak kisah perjuangan bangsa yang dapat dikenalkan kepada masyarakat melalui bahasa sinema.

"Film adalah produk budaya yang memiliki platform yang sangat baik untuk menghadirkan edukasi sejarah sekaligus menanamkan nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan kebangsaan kepada masyarakat," ujar Fadli Zon.

Ia menjelaskan bahwa periode 1945–1950 merupakan fase penting dalam perjalanan Republik Indonesia yang tidak hanya diwarnai perjuangan bersenjata, tetapi juga diplomasi, perjuangan ekonomi, peran pers, hingga gerakan seni dan kebudayaan. Menurutnya, berbagai kisah tersebut masih memiliki ruang luas untuk diangkat ke layar lebar.

"Kita ingin membawa masa lalu ke hari ini agar tetap relevan. Ruang kreativitas sangat terbuka, tetapi konteks sejarah harus tetap terjaga melalui kolaborasi dengan para sejarawan," tambahnya.

Wadah Kolaborasi

Sementara itu, Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, menjelaskan program ini dirancang sebagai wadah kolaborasi antara insan perfilman, sejarawan, akademisi, arsiparis, penulis skenario, produser, sutradara, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan film yang memiliki kualitas sinematik sekaligus didukung riset sejarah yang kuat.

"Seluruh proposal peserta akan melalui tahapan seleksi administrasi, penilaian oleh dewan juri, presentasi (pitching), pengembangan proyek, hingga proses produksi dan monitoring yang dilakukan secara terbuka dan profesional," tambahnya.

Sayembara dibuka dalam dua kategori, yakni Film Panjang berdurasi minimal 75 menit dan Film Pendek berdurasi 15–30 menit. Untuk kategori film pendek, peserta akan mengembangkan cerita berdasarkan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Indonesia, seperti Peristiwa Rengasdengklok, Proklamasi Kemerdekaan, Pertempuran Surabaya 10 November, Agresi Militer Belanda, Gerilya Jenderal Soedirman, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), hingga perjuangan diplomasi dan ekonomi pada masa awal kemerdekaan.

Selain memperoleh dukungan pendanaan, peserta terpilih juga akan mendapatkan pendampingan penyempurnaan skenario, konsultasi bersama sejarawan dan budayawan, serta pendampingan produksi oleh praktisi perfilman.

Pendaftaran sayembara berlangsung mulai 10 Juli hingga 10 Agustus 2026 dan terbuka bagi rumah produksi, perusahaan perfilman, komunitas film, serta sineas Indonesia yang memenuhi persyaratan administrasi dan memiliki pengalaman dalam produksi film.

Melalui Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia 2026, Kementerian Kebudayaan berharap lahir karya-karya sinema yang mampu menghadirkan kembali kisah perjuangan bangsa dengan pendekatan yang relevan bagi masyarakat masa kini. Program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ekosistem perfilman nasional sekaligus memanfaatkan film sebagai media pelestarian sejarah dan penguatan identitas kebangsaan.