
JAKARTA – Kementerian Kebudayaan meluncurkan enam buku terjemahan karya sastra klasik Indonesia dalam kegiatan 'Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia' yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Sastra ke-13 di Graha Utama Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senayan, Jakarta, Kamis (2/7).
Peluncuran dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon yang menilai penerjemahan karya sastra menjadi salah satu langkah strategis untuk memperluas akses pembaca internasional terhadap khazanah sastra Indonesia.
Menurut Fadli, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tercermin dalam berbagai karya sastra, namun banyak di antaranya belum dikenal luas di tingkat global karena keterbatasan terjemahan ke bahasa asing.
"Banyak sekali karya-karya sastra kita yang luar biasa berkualitas, tetapi sulit diakses oleh para pembaca internasional. Salah satu persoalannya adalah kurangnya buku-buku sastra dalam bahasa asing, sehingga proses penerjemahan sastra Indonesia ke dalam bahasa asing membuat karya sastra kita menjadi lebih terlihat dan lebih mudah diakses," ujar Fadli.
Ia mengatakan penerjemahan karya sastra klasik bukan sekadar mengalihkan bahasa, tetapi juga menjadi medium untuk memperkenalkan pengalaman, nilai, dan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat dunia.
"Kami terus berupaya membuka kemungkinan internasionalisasi sastra Indonesia dengan melahirkan para penerjemah dan promotor muda, serta memberikan *Translation Funding Program* bagi penerbit asing yang membeli hak cipta karya sastra Indonesia," katanya.
Enam karya yang diluncurkan berasal dari berbagai periode dan genre dalam sejarah sastra Indonesia. Karya tersebut meliputi Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang diterjemahkan Annie Tucker, Kehilangan Mestika karya Fatimah Hasan Delais diterjemahkan Syarafina Vidyadhana, Tanah Gersang karya Mochtar Lubis diterjemahkan Zoe McLaughlin, Dua Dunia karya NH Dini diterjemahkan Saut Situmorang, kumpulan puisi Balada Orang-orang Tercinta karya WS Rendra yang diterjemahkan Lara Norgaard, serta Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang yang diterjemahkan Suzan Piper.
Selain peluncuran buku, kegiatan tersebut juga menampilkan berbagai alih wahana sastra dalam bentuk instalasi, pemutaran video, hingga pertunjukan yang memadukan teater, tari, musik, dan multimedia.
Acara dihadiri sejumlah tokoh sastra nasional, antara lain Taufiq Ismail, Taufik Abdullah, serta Wardiman Djojonegoro, bersama jajaran pejabat Kementerian Kebudayaan.
Kementerian Kebudayaan menyatakan program penerjemahan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem sastra nasional, mulai dari penciptaan karya, penerjemahan, promosi, hingga perluasan jejaring internasional. Program itu juga didukung melalui kemitraan dengan 18 festival sastra di Indonesia, pengembangan talenta sastra melalui Manajemen Talenta Nasional, serta penyediaan Translation Funding Program* bagi penerbit luar negeri yang menerbitkan karya sastra Indonesia.