
Jakarta – Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Joko Santoso, menegaskan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuka peluang besar bagi dunia akademik. Namun, pemanfaatannya harus dilakukan secara bertanggung jawab, beretika, dan tidak menggantikan proses berpikir kritis dalam menghasilkan karya ilmiah.
Menurut Joko, kehadiran berbagai platform AI dapat membantu mahasiswa, dosen, peneliti, maupun akademisi dalam menyusun karya ilmiah, mulai dari mencari referensi, menyusun kerangka tulisan, hingga membantu merumuskan judul dan abstrak. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa hasil yang diberikan AI tidak boleh disalin secara mentah tanpa proses analisis dan pengembangan oleh pengguna.
"Teknologi AI memang memberikan kemudahan. Namun, penggunaannya tidak boleh sekadar copy-paste. Akademisi tetap harus berpikir kritis, mengembangkan gagasan sendiri, serta memastikan setiap informasi yang digunakan berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Joko menjelaskan, Perpusnas bersama perguruan tinggi terus mendorong lahirnya lulusan yang berkualitas melalui penguatan literasi informasi dan literasi digital. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberikan pelatihan kepada sivitas akademika mengenai etika penggunaan AI dalam kegiatan akademik.
Selain itu, berbagai perguruan tinggi juga telah memanfaatkan perangkat pendeteksi tulisan berbasis AI untuk mengidentifikasi sejauh mana sebuah karya dihasilkan oleh manusia atau menggunakan bantuan kecerdasan buatan. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga integritas akademik sekaligus mencegah praktik plagiarisme.
Menurutnya, Perpusnas juga aktif menyelenggarakan pelatihan literasi informasi yang kini telah terintegrasi dalam sejumlah mata kuliah di berbagai universitas. Dalam kegiatan tersebut, pustakawan terlibat langsung memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai cara memanfaatkan AI secara bijaksana, melakukan evaluasi terhadap informasi, hingga mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bekerja sama dengan Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), organisasi profesi yang menjadi wadah kolaborasi, pengembangan, dan pertukaran pengetahuan di bidang perpustakaan digital Indonesia, serta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) selaku tuan rumah penyelenggara, akan menyelenggarakan Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 pada 4–6 Agustus 2026 di University Hotel Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Konferensi ini mengangkat tema "Kesadaran, Perilaku, Interaksi, dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan".
Penyelenggaraan KPDI ke-17 dilatarbelakangi semakin tingginya pemanfaatan teknologi digital di Indonesia. Berdasarkan Survei Penetrasi Internet APJII 2025, jumlah pengguna internet telah mencapai lebih dari 229 juta jiwa atau sekitar 80,66 persen dari total populasi. Namun, peningkatan akses tersebut belum sepenuhnya diiringi oleh kualitas pemanfaatan informasi.
Hal ini tercermin dari Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) Tahun 2025 yang berada pada angka 44,53, sehingga penguatan literasi digital dan budaya informasi perlu terus ditingkatkan. Dalam kerangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), transformasi digital juga menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional yang mencakup penguatan ekosistem digital, pengembangan talenta digital, serta tata kelola kecerdasan buatan yang etis dan inklusif.
Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI) periode 2024–2028, ini juga menegaskan bahwa perpustakaan harus terus bertransformasi agar mampu menjawab dinamika masyarakat di era digital.
"Perpustakaan tidak cukup hanya menyediakan akses terhadap informasi. Perpustakaan harus mampu menjadi ruang pembelajaran yang membangun kesadaran masyarakat, membentuk perilaku literasi yang sehat, memperkuat interaksi berbasis pengetahuan, sekaligus menumbuhkan budaya informasi yang kritis, etis, dan bertanggung jawab," ujarnya dalam Taklimat Media Konferensi Digital Indonesia ke-17 yang diselenggarakan di Executive Lounge Lt. 24, Kamis (2/7/2026).
Menurut Joko, KPDI ke-17 tidak dimaknai sebagai agenda konferensi tahunan semata, tetapi merupakan bagian dari arah strategis pengembangan perpustakaan Indonesia yang adaptif terhadap perubahan teknologi, responsif terhadap dinamika masyarakat, serta berorientasi pada penguatan budaya informasi sebagai fondasi pembangunan bangsa. Melalui konferensi ini, Perpusnas, FPDI, dan UMY terus memperkuat kolaborasi untuk menghadirkan perpustakaan yang inovatif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di era transformasi digital.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dalam mengelola informasi secara cerdas dan beretika.
Joko menambahkan bahwa peran pustakawan saat ini semakin strategis di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Tidak hanya mengelola koleksi perpustakaan, pustakawan juga bertugas mengkurasi sumber-sumber informasi yang kredibel sehingga masyarakat memperoleh pengetahuan yang akurat dan terpercaya.
Ia mengakui bahwa AI memiliki potensi menghasilkan informasi yang keliru atau dikenal dengan istilah halusinasi (hallucination). Oleh karena itu, keberadaan pustakawan menjadi sangat penting dalam memastikan sumber informasi yang digunakan berasal dari lembaga, penulis, maupun penerbit yang memiliki otoritas dan kredibilitas.
Menurut Joko, berbagai masukan dari akademisi dan praktisi akan menjadi bahan evaluasi sekaligus rekomendasi dalam penyusunan program Perpusnas ke depan. Isu pemanfaatan AI yang semakin berkembang dinilai sebagai kepentingan nasional yang harus direspons melalui kebijakan dan program literasi yang tepat.
Di sisi lain, Joko juga menyoroti tantangan literasi digital masyarakat Indonesia. Meskipun penggunaan smartphone terus meningkat, tingkat literasi digital masyarakat masih perlu diperkuat. Berbagai persoalan seperti penyebaran hoaks, penipuan digital, ujaran kebencian, perundungan siber (cyberbullying), hingga maraknya pinjaman online ilegal menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Sebagai upaya meningkatkan literasi digital masyarakat, Perpusnas terus mengembangkan program Anjungan Baca Digital yang ditempatkan di berbagai ruang publik, sekolah, serta pusat-pusat kegiatan masyarakat.
Fasilitas tersebut dilengkapi dengan komputer, tablet, Smart TV, serta berbagai koleksi konten digital yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk belajar, mengakses informasi, hingga mengikuti berbagai aktivitas literasi.
"Kami ingin ruang-ruang publik menjadi pusat pembelajaran masyarakat. Anjungan Baca Digital bukan hanya menyediakan perangkat, tetapi juga menghadirkan berbagai produk pembelajaran digital yang dapat diakses oleh semua kalangan," ungkapnya.
Melalui berbagai program tersebut, Perpusnas berharap masyarakat semakin mampu memanfaatkan teknologi digital secara produktif, meningkatkan budaya literasi, serta menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dengan tetap menjunjung tinggi etika akademik dan integritas dalam penggunaan kecerdasan buatan.