
JAKARTA - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI dan Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) terus memperkuat kolaborasi dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia melalui berbagai program strategis, khususnya di bidang pemberdayaan ekonomi mustahik.
Hal tersebut mengemuka dalam audiensi BAZNAS RI bersama BP Taskin yang digelar di Gedung BAZNAS RI, Jakarta, Rabu (24/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Deputi II BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Dr. H.M. Imdadun Rahmat, M.Si., Deputi Percepatan Fasilitasi dan Perlindungan Kesejahteraan BP Taskin, Dr. Zaidirina, M.Si., beserta jajarannya.
Deputi II BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Dr. H.M. Imdadun Rahmat, M.Si., mengatakan BAZNAS dan BP Taskin memiliki irisan program yang sangat strategis untuk dikolaborasikan dalam mempercepat pengentasan kemiskinan.
Menurutnya, fokus utama BAZNAS yang menyasar kelompok fakir dan miskin sejalan dengan sasaran prioritas yang ditetapkan BP Taskin.
"Fokus utama yang beririsan langsung dengan sasaran prioritas BP Taskin adalah golongan fakir dan miskin, karena kedua golongan ini menempati urutan pertama dan kedua dalam prioritas penyaluran," ujarnya.
Imdadun menjelaskan, BAZNAS saat ini memiliki 43 program penyaluran yang mencakup berbagai sektor, antara lain kemanusiaan, kebencanaan, kesehatan, dakwah, ekonomi, dan pendidikan.
Ia berharap berbagai program tersebut dapat dikolaborasikan dengan BP Taskin sehingga manfaat yang dirasakan masyarakat menjadi lebih luas dan berdampak signifikan terhadap upaya pengentasan kemiskinan.
Sementara itu, Deputi Percepatan Fasilitasi dan Perlindungan Kesejahteraan BP Taskin, Dr. Zaidirina, M.Si., mengapresiasi dukungan BAZNAS terhadap berbagai program yang dijalankan BP Taskin, khususnya melalui Program Si-Taskin (Sinergi Percepatan Pengentasan Kemiskinan).
"Kami sangat mengapresiasi BAZNAS yang telah mendukung Program Si-Taskin sejak awal. Program ini telah berjalan di berbagai daerah, seperti Pandeglang, Tangerang, Jember, Cilacap, Bogor, Aceh, hingga Toraja Utara. Kami berharap kolaborasi ini terus ditingkatkan di bawah kepengurusan BAZNAS yang baru," ujar Zaidirina.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas lembaga menjadi sangat penting mengingat target pengentasan kemiskinan yang ditetapkan pemerintah cukup ambisius. Berdasarkan RPJPN dan RPJMN, pemerintah menargetkan angka kemiskinan ekstrem mencapai 0 persen pada 2026, sementara tingkat kemiskinan relatif diturunkan menjadi 4,5 hingga 5 persen pada 2029.
Untuk mencapai target tersebut, Zaidirina menilai banyak program unggulan BAZNAS yang dapat disinergikan dengan BP Taskin, termasuk program pengembangan UMKM dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, upaya pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya melalui bantuan sosial, tetapi juga harus diarahkan pada peningkatan kemandirian penerima manfaat.
"Sasaran utama kita adalah mewujudkan kemandirian kelompok rentan, khususnya pada desil pertama hingga desil tiga. Bantuan sosial dan perlindungan sosial itu ibarat pelampung. Setelah masyarakat diberi pelampung, mereka harus dibantu untuk naik ke atas kapal (graduasi), bukan dibiarkan terapung selamanya di laut," katanya.