Sinergi Dua Kementerian untuk Sekolah Transmigrasi, Fokus Perbaikan Toilet hingga Relawan Mengajar 

AKM • Wednesday, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB
Pertemuan Antara Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi dan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), Dr. Rita Pranawati

Jakarta – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan di kawasan transmigrasi mendapat dorongan baru. Kementerian Transmigrasi (Kementrans) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuka peluang kerja sama yang lebih luas, mulai dari pembangunan fasilitas sanitasi sekolah hingga penguatan tenaga pengajar di daerah tertinggal.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi dan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), Dr. Rita Pranawati, di Gedung Makarti, Kompleks Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Pertemuan itu menjadi momentum memperkuat sinergi lintas kementerian dalam menjawab tantangan pendidikan di kawasan transmigrasi yang selama ini masih menghadapi keterbatasan sarana dasar, termasuk fasilitas sanitasi yang layak.

Rita Pranawati menilai langkah Kementrans membangun dan merehabilitasi toilet sekolah sejalan dengan agenda Kemendikdasmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan aman bagi peserta didik.

Menurutnya, kebutuhan perbaikan sanitasi sekolah masih sangat besar. Dari hasil pemetaan Kemendikdasmen, sekitar 70.000 sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA masih memerlukan pembangunan maupun rehabilitasi toilet agar memenuhi standar kelayakan.

“Kami melihat ada ruang kolaborasi yang sangat besar untuk meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan, khususnya di kawasan transmigrasi dan wilayah 3T,” ujar Rita dalam pertemuan tersebut.

Selain infrastruktur sanitasi, Kemendikdasmen juga menawarkan penguatan sumber daya manusia pendidikan melalui program Relawan Mengajar. Program ini dirancang untuk menghadirkan tenaga pengajar relawan ke sekolah-sekolah yang mengalami keterbatasan guru, termasuk di kawasan transmigrasi.

Toilet Layak Dinilai Berdampak pada Kesehatan dan Pendidikan

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menyambut positif perhatian Kemendikdasmen terhadap program yang telah dijalankan Kementrans. Menurutnya, pembangunan toilet sekolah bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas kesehatan dan pendidikan anak-anak di kawasan transmigrasi.

"Saya senang program yang dijalankan Kementrans mendapat perhatian dari kementerian lain. Kita telah melakukan program ini di berbagai kawasan transmigrasi," kata Viva Yoga.

Program tersebut telah dilaksanakan di sejumlah daerah. Salah satunya di SDN 10 Pulubala, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Dalam kunjungan kerjanya, Viva Yoga meninjau sekaligus meresmikan fasilitas toilet yang dibangun untuk menunjang aktivitas belajar mengajar.

Pembangunan fasilitas sanitasi juga dilakukan di SDN 14 Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara. Saat meninjau lokasi tersebut, Viva Yoga menegaskan bahwa keberadaan toilet yang bersih dan layak menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan siswa sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang nyaman.

"Toilet yang bersih akan mendukung kesehatan siswa dan pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan," ujarnya.

Sebelumnya, Kementrans juga melakukan peninjauan fasilitas pendidikan di kawasan transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Di SD Inpres 13 Kampung Udapi Hilir, Viva Yoga meninjau kondisi ruang kelas, fasilitas sanitasi, serta akses air bersih yang menjadi kebutuhan dasar siswa dan tenaga pendidik.

"Kita datang untuk memantau program-program Kementrans agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," kata Viva Yoga saat kunjungan tersebut.

Relawan Mengajar Berpeluang Terintegrasi dengan Trans Patriot

Selain pembangunan infrastruktur sekolah, pembahasan juga mengarah pada penguatan kualitas pendidikan melalui penyediaan tenaga pengajar.

Viva Yoga menilai program Relawan Mengajar yang ditawarkan Kemendikdasmen memiliki kesamaan semangat dengan program Trans Patriot, sebuah program pengabdian yang melibatkan kalangan akademisi untuk berkontribusi di kawasan transmigrasi.

Program yang mulai dijalankan pada 2025 dan kembali dilaksanakan pada 2026 itu melibatkan sarjana, magister, doktor hingga guru besar dari berbagai perguruan tinggi untuk melakukan riset dan pendampingan masyarakat di wilayah transmigrasi.

Menurut Viva Yoga, kehadiran relawan pendidikan dapat menjadi bagian penting dari upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah.

"Di lingkup inilah Relawan Mengajar bisa disinergikan dengan program Trans Patriot," ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Kementrans membuka kesempatan bagi Kemendikdasmen untuk mempresentasikan program Relawan Mengajar dalam kegiatan pembekalan bagi 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 yang akan bertugas di berbagai kawasan transmigrasi di Indonesia.

Kolaborasi kedua kementerian tersebut diharapkan tidak hanya mempercepat pemenuhan kebutuhan fasilitas dasar sekolah, tetapi juga memperkuat pemerataan pendidikan di kawasan transmigrasi dan wilayah 3T yang selama ini menjadi salah satu tantangan pembangunan nasional.