Geopolitik Memanas, DPR Ingatkan Pentingnya Kedaulatan dan Stabilitas Nasional

AKM • Thursday, 23 Apr 2026 - 10:27 WIB
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono (Istimewa)

Jakarta - Memanasnya situasi geopolitik global mendorong berbagai pihak di dalam negeri untuk memperkuat kewaspadaan nasional. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menegaskan bahwa Indonesia harus memperkuat kedaulatan sekaligus tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif di tengah tarik-menarik kepentingan global.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum Diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk "Memperkuat Kedaulatan Bangsa di Era Dinamika Persaingan Global”" di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Rabu (23/4).

Menurut Dave, eskalasi konflik internasional yang masih berlangsung, seperti Perang Rusia–Ukraina dan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, serta Amerika Serikat, menunjukkan bahwa konflik modern tidak lagi berdiri sendiri, melainkan melibatkan banyak kepentingan global.

“Kalau hanya dua negara, seharusnya konflik bisa cepat selesai. Tapi faktanya ada suplai senjata, teknologi, bahkan personel dari berbagai pihak,” ujarnya.

Ancaman Nyata dan Fenomena Tentara Bayaran

Dave juga menyoroti fenomena keterlibatan warga negara asing, termasuk dari Indonesia, dalam konflik global sebagai tentara bayaran. Ia mengingatkan bahwa iming-iming ekonomi tidak sebanding dengan risiko kehilangan nyawa di zona perang.

Selain itu, ia menilai stabilitas internal Iran tetap terjaga meskipun terjadi eskalasi konflik. Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan kuatnya fondasi ideologi negara dibanding ketergantungan pada figur individu.

Dampak Ekonomi dan Peran Pemerintah

Dinamika geopolitik global turut berdampak pada sektor ekonomi, terutama fluktuasi harga energi dunia. Meski demikian, Dave mengapresiasi langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto yang dinilai mampu menjaga stabilitas melalui kebijakan fiskal.

“Pemerintah mampu menahan dampak kenaikan harga minyak dengan pengelolaan anggaran yang tepat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap ancaman hibrida, termasuk potensi konflik di kawasan Laut China Selatan serta ketegangan antara China dan Taiwan.

Dalam konteks tersebut, Dave menegaskan bahwa Indonesia harus menjaga keseimbangan hubungan internasional.

“China adalah mitra dagang utama, tetapi kita juga membutuhkan teknologi dan kerja sama dari Barat. Hubungan harus tetap seimbang,” ujarnya.

Stabilitas Politik Jadi Kunci

Pandangan senada disampaikan Direktur Lembaga Literasi Politik Indonesia, Ujang Komarudin, yang menilai bahwa stabilitas politik dan keamanan merupakan fondasi utama dalam menghadapi gejolak global.

Menurut Ujang, kondisi dunia saat ini penuh ketidakpastian dan masih didominasi oleh kekuatan negara besar.

“Dalam realitas geopolitik, yang kuat akan menentukan arah, sementara yang lemah akan mengikuti konsekuensi,” katanya.

Ia menekankan bahwa Indonesia harus fokus memperkuat daya tahan internal, terutama di sektor energi dan pangan.

Ketahanan Energi dan Pangan

Ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), menurut Ujang, masih menjadi tantangan besar. Oleh karena itu, pembangunan kilang minyak serta cadangan energi nasional perlu dipercepat.

Di sisi lain, ketahanan pangan juga dinilai sebagai faktor krusial yang tidak boleh diabaikan, mengingat besarnya jumlah penduduk Indonesia.

“Kalau pangan terganggu, dampaknya bisa sangat serius. Swasembada harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Selain energi dan pangan, Ujang juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi sebagai bagian dari kedaulatan bangsa. Ia menilai Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kompeten, namun belum dimaksimalkan secara optimal untuk bersaing di tingkat global.

Tak kalah penting, ia menambahkan, adalah ketahanan budaya sebagai benteng identitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.

Baik Dave maupun Ujang sepakat bahwa Indonesia harus terus memainkan peran aktif di panggung internasional, tidak hanya dalam bentuk diplomasi normatif, tetapi juga mendorong solusi konkret atas berbagai konflik global.

“Indonesia harus hadir sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat. Perdamaian dunia harus diperjuangkan dengan langkah nyata,” kata Dave.

Ujang menutup dengan menegaskan bahwa ketahanan nasional bukan sekadar kemampuan bertahan, tetapi juga kesiapan untuk menjaga keberlanjutan dan kedaulatan bangsa di masa depan.

“Jika stabilitas politik dan keamanan terjaga, maka sektor lain akan ikut kuat. Itulah kunci Indonesia bertahan di tengah gejolak global,” pungkasnya.