Genre: Action, Adventure, Science Fiction
Sutradara: Phil Lord & Christopher Miller
Berdasarkan novel karya Andy Weir
Pemeran: Ryan Gosling, Sandra Hüller, Lionel Boyce, Ken Leung, Milana Vayntrub
Durasi: 2 jam 37 menit
Distributor: Sony Pictures
Mulai tayang di bioskop Indonesia: 8 April 2026
Format termasuk IMAX
Dalam waktu yang cukup lama, sci-fi tak pernah sekeren dan semeyakinkan Project Hail Mary. Apalagi, sentuhan emosi personalnya akan terasa dalam hati, lebih dari sekadar visualisasi menakjubkan di luar angkasa yang futuristik.
Pengalaman epik tersebut mengingatkan pada The Martian (2015), yang menyadarkan kita pada serunya mengandalkan ilmu pengetahuan. Meski bercerita tentang luar angkasa, kali ini aktor Ryan Gosling memberi koneksi emosi yang humanis sepanjang perjalanan.
Ekspresinya memperkaya varian warna-warni visual yang memanjakan mata, dengan secara halus menggambarkan kerentanan manusia. Ryan berperan sebagai Dr. Ryland Grace, pakar biologi yang mengajar di sekolah menengah.
Grace bukanlah astronot berpengalaman atau penjelajah tanpa rasa takut. Dia selalu bertindak dengan penuh rasa ingin tahu, sedikit canggung, dan jauh lebih nyaman di ruang kelas daripada di kehampaan luar angkasa.
Landasan inilah yang membuat perjalanannya begitu menarik. Ketika dia didorong ke dalam misi untuk menyelamatkan umat manusia, narasi tidak mengubahnya menjadi pahlawan aksi konvensional.
Sebaliknya, cerita ini merangkul ketakutannya, humornya, dan nalurinya yang gigih untuk memecahkan masalah selangkah demi selangkah. Hasilnya adalah seorang protagonis yang terasa nyata, bahkan ketika keadaan di sekitarnya sama sekali tidak.
Diadaptasi dari Project Hail Mary karya novelis The Martian, Andy Weir, cerita ini melanjutkan perpaduan khas penulis antara ketelitian ilmiah dan keterjangkauan emosional. Namun, di mana The Martian berkembang melalui isolasi dan kecerdikan, Project Hail Mary berevolusi menjadi sesuatu yang lebih kolaboratif.
Inti cerita terletak pada persahabatan tak terduga antara dua makhluk dari dunia yang sepenuhnya berbeda. Tanpa bahasa atau sisi biologis dan psikis yang sama, hubungan mereka terbentuk melalui logika, empati, dan tujuan bersama: bertahan hidup.
Hubungan Dr. Grace dengan kawan barunya menjadi inti emosional dari narasi. Bukan sekadar perangkat fiksi ilmiah yang cerdas, melainkan refleksi dari gagasang lebih dalam: pemahaman dapat ada bahkan tanpa kesamaan, dan kerja sama sering lahir dari kebutuhan tetapi dipertahankan oleh kepercayaan.
Project Hail Mary menggunakan persahabatan antarbintang ini untuk mengeksplorasi tema komunikasi, pengorbanan, dan keberanian tenang yang diperlukan untuk bergantung pada seseorang—atau sesuatu—yang sepenuhnya asing.
Dr. Grace tidak dapat menyelesaikan krisis sendirian, yang pada akhirnya ditekankan oleh Project Hail Mary soal kesederhanaan, keberlangsungan hidup bukanlah tindakan maun menang sendiri. Dalam pilihan itu – melintasi tahun cahaya, bahasa, dan disiplin ilmu – kisah ini menemukan keyakinannya yang hening: Kita tidak bertahan sendirian.