Abdul Mu’ti Ajak Perkuat Peran Perempuan Lewat Pendidikan, Soroti Hambatan Budaya dan Mitos

AKM • Wednesday, 1 Apr 2026 - 11:58 WIB
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu'ti (Istimewa)

Jakarta— Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu'ti, mengajak kolaborasi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat peran perempuan sebagai modal penting dalam kemajuan bangsa melalui pendidikan.

Ajakan tersebut disampaikan dalam pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan yang digelar di Jakarta, Rabu (1/4/2026), sebagai bagian dari implementasi visi pembangunan nasional yang sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

“Ini sesuai dengan Asta Cita ke-4 Presiden Prabowo Subianto, bahwa pemerintah memberikan luas kesempatan pendidikan perempuan,” ujar Mu’ti.

Namun demikian, ia mengakui bahwa upaya pemberdayaan perempuan masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi teologis, kultural, maupun sosial. Salah satunya adalah pandangan lama yang menempatkan perempuan hanya sebagai pelengkap laki-laki.

“Ada masalah teologis, misalnya anggapan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Juga masalah kultural, seperti pandangan perempuan hanya cukup di belakang,” jelasnya.

Mu’ti juga menyinggung budaya lama dalam masyarakat Jawa yang menyebut perempuan sebagai “konco wingking”, atau teman di belakang, yang membatasi ruang gerak perempuan dalam kehidupan sosial dan pendidikan.

“Masyarakat dulu menyebut perempuan itu konco wingking, bahkan tugasnya hanya 3M, masak, macak, manak. Ini jelas sudah tidak relevan dengan zaman sekarang,” tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa dampak dari pandangan tersebut masih terasa hingga kini, terutama dalam akses pendidikan. Dalam beberapa kasus, anak laki-laki masih menjadi prioritas utama dalam memperoleh pendidikan dibandingkan anak perempuan.

“Ketika ekonomi keluarga terbatas, sering kali yang didahulukan adalah anak laki-laki, sementara anak perempuan tidak mendapat kesempatan yang sama,” ungkapnya.

Mitos 3 UR

Mu’ti juga menyoroti masih kuatnya mitos di masyarakat yang meragukan kemampuan perempuan dalam bidang intelektual.

“Ada anggapan perempuan tidak perlu pintar, atau kecerdasannya di bawah laki-laki. Bahkan ada istilah ‘3 ur’ yaitu dapur, kasur, sumur. Ini yang harus kita hapuskan bersama,” katanya.

Menurut Mu’ti, pandangan tersebut tidak berdasar dan justru bertentangan dengan realitas. Ia menilai perempuan memiliki kemampuan yang tidak kalah, bahkan dalam beberapa aspek seperti ketelitian dan daya ingat.

“Kekuatan memori perempuan itu jauh lebih kuat, mereka lebih detail, sementara laki-laki cenderung general,” jelasnya.

Untuk itu, Kemendikdasmen mencanangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan sepanjang April 2026 sebagai momentum mendorong kesetaraan akses pendidikan.

“Kami berkomitmen memberikan ruang seluas-luasnya bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan dan mengembangkan potensi yang dimiliki,” tegas Mu’ti.

Program ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2026. Berbagai kegiatan akan digelar untuk memperkuat peran perempuan di bidang pendidikan dan pembangunan.

Pencanangan program ini melibatkan kolaborasi tiga kementerian, yakni Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Melalui langkah ini, pemerintah berharap dapat menghapus stigma dan hambatan yang selama ini membatasi perempuan, sekaligus mendorong lahirnya generasi perempuan Indonesia yang berdaya, berpendidikan, dan berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional.