
Jakarta — Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara masyarakat mencari, mengolah, dan memahami informasi. Teknologi ini bahkan mulai menjadi gerbang baru bagi publik dalam memahami berbagai peristiwa dan isu di dunia.
Hal tersebut disampaikan Hetifah saat memberikan *keynote speech* dalam diskusi bertajuk *Smart Journalism* yang diselenggarakan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional di Jakarta, Minggu (15/3).
Menurut Hetifah, penggunaan AI generatif berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah laporan internasional, termasuk dari Reuters Institute for the Study of Journalism, menunjukkan masyarakat kini semakin sering memanfaatkan AI untuk memperoleh informasi.
“Data menunjukkan bahwa banyak masyarakat menggunakan AI secara rutin, dan persentasenya meningkat pesat dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar Hetifah.
Ia menambahkan, tren penggunaan AI bahkan lebih kuat di kalangan generasi muda.
“Di kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z, lebih dari 70 persen dari mereka menggunakan AI untuk mencari informasi,” katanya.
Jalankan Peran Media
Menurut Hetifah, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar teknologi eksperimental atau alat kreatif. Teknologi ini mulai menjalankan berbagai fungsi yang sebelumnya menjadi peran utama media, mulai dari produksi hingga distribusi informasi.
Ia menjelaskan bahwa di banyak ruang redaksi media global, AI sudah dimanfaatkan untuk berbagai proses kerja jurnalistik. Teknologi ini dapat menganalisis ribuan dokumen secara otomatis, melakukan transkripsi wawancara, hingga mengolah data publik dalam jumlah besar.
“Di banyak newsroom global, AI digunakan untuk menganalisa ribuan dokumen secara otomatis, melakukan transkripsi wawancara, hingga membantu menyusun ringkasan berita,” ujarnya.
Meski demikian, Hetifah menegaskan bahwa AI tidak boleh menggantikan peran jurnalis. Menurutnya, teknologi tersebut seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi kerja jurnalistik.
“AI seharusnya bisa berperan sebagai *co-pilot* atau alat bantu untuk mempercepat proses kerja jurnalistik kita,” kata Hetifah.
Ia menekankan bahwa keputusan editorial, interpretasi data, serta penilaian etika tetap harus berada di tangan manusia. Prinsip dasar jurnalisme seperti akurasi, verifikasi berlapis, dan kepentingan publik tidak boleh ditinggalkan di tengah perkembangan teknologi.
Hetifah juga menyoroti munculnya fenomena baru dalam industri media yang dikenal sebagai *synthetic media*. Dalam sistem ini, algoritma dapat melakukan berbagai fungsi mulai dari seleksi isu, klasifikasi informasi, produksi berita, hingga distribusi konten secara otomatis.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa otomatisasi dalam industri media sudah masuk pada tahap yang jauh lebih maju,” ujarnya.
Ia memaparkan hasil survei terhadap jurnalis di Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina yang menunjukkan tingkat familiaritas terhadap AI telah mencapai sekitar 95 persen.
Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen jurnalis telah menggunakan AI dalam pekerjaan jurnalistik mereka, sementara 84 persen menilai teknologi ini memberikan dampak positif terhadap proses kerja media.
Menghadapi perkembangan tersebut, Hetifah menilai ada tiga kemampuan utama yang perlu dimiliki jurnalis agar tidak terjebak dalam penggunaan AI yang keliru, yaitu literasi data, literasi AI, dan kemampuan verifikasi informasi digital.
“Teknologi boleh berubah, platform boleh berganti, tetapi prinsip dasar jurnalisme yang baik tidak boleh berubah,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa tujuan utama jurnalisme adalah melayani masyarakat. Karena itu, pemberitaan harus tetap relevan bagi publik dan membantu masyarakat memahami dampak dari berbagai kebijakan yang diambil pemerintah.
Hetifah juga menyinggung tingkat kepercayaan publik terhadap berita berbasis AI. Berdasarkan survei, hanya sekitar 12 persen responden di Indonesia yang merasa nyaman dengan berita yang sepenuhnya dibuat oleh AI.
“Sebagian besar masyarakat masih lebih percaya pada berita yang ditulis oleh jurnalis manusia,” ujarnya.
Menurut Hetifah, hal tersebut menunjukkan bahwa dedikasi dan integritas para jurnalis tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap media di era teknologi kecerdasan buatan.
“Integritas para jurnalis tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap media di era teknologi kecerdasan buatan,” tandasnya.