
Jakarta – Berbagai stimulus ekonomi yang digelontorkan Pemerintah diprediksi akan menjadi magnet kuat bagi masyarakat untuk melakukan mudik Idul Fitri 1447 H. Dukungan mulai dari diskon tiket transportasi hingga pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) diharapkan menjadi motor penggerak konsumsi rumah tangga di berbagai daerah.
Pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp911,16 miliar khusus untuk program diskon transportasi. Besaran diskon bervariasi: 30% untuk kereta api dan angkutan laut, pembebasan tarif jasa kepelabuhan (100%) bagi penyeberangan, serta diskon 17-18% untuk tiket pesawat kelas ekonomi. Tak ketinggalan, potongan tarif tol 30% diberlakukan di 29 ruas tol Jabodetabek serta trans Jawa dan Sumatera.
Dari sisi daya beli, anggaran THR ASN, TNI-Polri, dan pensiunan mencapai Rp65 triliun (naik 10% dari tahun lalu). Sementara itu, sektor swasta diperkirakan mencatat perputaran THR hingga Rp124 triliun. Kebijakan baru mengenai Bonus Hari Raya (BHR) bagi mitra ojek online dan kurir juga diprediksi menambah peredaran uang sebesar Rp220 miliar.
Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, potensi pergerakan masyarakat mencapai 143,9 juta orang atau sekitar 50,6% dari populasi Indonesia.
"Dengan asumsi moderat, jika setiap keluarga membawa rata-rata Rp4,12 juta, maka potensi perputaran uang mencapai Rp148,3 triliun, naik sekitar 8% dari tahun lalu," ujar Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah.
Angka ini bahkan berpeluang menembus Rp161,8 triliun jika konsumsi per keluarga mencapai Rp4,5 juta. Aliran dana segar ini akan membanjiri Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, serta menyebar ke Sumatera, Sulawesi, hingga destinasi wisata di Bali. Sektor yang terdampak sangat luas, mulai dari transportasi, bahan pokok, fesyen, hingga UMKM di pusat kuliner dan oleh-oleh.
Lonjakan konsumsi rumah tangga sebesar 10-15% selama Idul Fitri menjadi momentum krusial untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 di angka 5,4 – 5,5%. Optimisme ini didukung oleh akumulasi geliat ekonomi sejak libur Nataru dan Imlek yang baru saja lewat.
Namun, Sarman Simanjorang memberikan catatan penting bagi Pemerintah untuk menjaga psikologi pasar.
"Pemerintah harus menjamin ketersediaan BBM dan gas di tengah ketegangan geopolitik global. Kepastian pasokan akan membuat masyarakat tidak ragu untuk membelanjakan uangnya di daerah," pungkasnya.