Bukan Sebatas Ritual, Kemenag Dorong Praktik Beragama Lebih Berdampak Sosial dan Ekonomi

AKM • Thursday, 12 Mar 2026 - 07:09 WIB
Sekretaris Jenderal Kemenag, Kamaruddin Amin

Jakarta – Kementerian Agama Republik Indonesia mengajak masyarakat untuk memaknai praktik beragama tidak hanya sebatas ritual keagamaan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kehidupan sosial dan ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kemenag, Kamaruddin Amin, dalam dialog bersama media yang digelar di kantor Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (11/3).

Menurut Kamaruddin, pemahaman agama selama ini kerap dipersempit hanya pada persoalan moral, syariah, maupun aspek eskatologis seperti surga, neraka, dan kehidupan setelah mati. Padahal, agama memiliki peran yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat.

“Sering kali agama dipersempit hanya pada persoalan surga, neraka, malaikat, atau urusan eskatologis. Padahal agama tidak boleh direduksi hanya pada hal-hal tersebut,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa praktik keberagamaan idealnya tidak berhenti pada kesalehan individu, tetapi juga berkembang menjadi kesalehan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Tiga Dimensi Utama

Kamaruddin menyebutkan praktik beragama seharusnya mencakup tiga dimensi utama, yakni memberikan dampak sosial, memberdayakan secara ekonomi, dan mencerahkan secara spiritual.

“Beragama harus berdampak secara sosial, secara ekonomi memberdayakan, dan secara spiritual mencerahkan. Itulah kualitas keberagamaan yang ingin kita dorong,” kata Kamaruddin.

Ia menegaskan bahwa upaya tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran agama, melainkan mendorong transformasi orientasi keberagamaan agar lebih memperhatikan kemaslahatan bersama.

Dalam kesempatan yang sama, Kamaruddin juga menyinggung pentingnya optimalisasi instrumen keagamaan seperti zakat dalam membantu mengatasi persoalan sosial, termasuk kemiskinan.

Menurutnya, zakat merupakan bentuk kedermawanan dasar dalam ajaran Islam, sementara potensi solidaritas sosial umat masih bisa dikembangkan lebih luas untuk membantu kelompok masyarakat yang membutuhkan.

“Kewajiban mengentaskan kemiskinan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga siapa pun yang memiliki kemampuan,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa saat ini masih terdapat sekitar 24 juta penduduk miskin di Indonesia, termasuk sekitar 4 juta yang masuk kategori miskin ekstrem. Dengan jumlah kelas menengah yang besar, potensi solidaritas sosial dinilai dapat menjadi salah satu kekuatan dalam membantu mengurangi kesenjangan sosial.

Selain itu, Kamaruddin juga menyoroti makna spiritual ibadah puasa di bulan Ramadan yang menurutnya dapat menjadi sarana pembinaan spiritual bagi umat.

“Puasa adalah latihan untuk merasakan kehadiran Tuhan setiap saat. Ini ibadah yang sangat personal antara manusia dan Tuhan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa puasa juga dapat menjadi sarana pembentukan kepekaan spiritual.

“ Agar manusia lebih peka terhadap nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya