Pakar Big Data Ingatkan Masifnya Hoaks Soal Jurnalis Ditangkap Karena MBG

MUS • Friday, 6 Mar 2026 - 10:32 WIB

Jakarta - Pendiri firma analitik Big Data Evello, Dudy Rudianto mengingatkan adanya upaya penyebaran konten hoaks secara masif soal MBG. 

Konten yang mengandung fitnah dan disinformasi itu menyebutkan adanya jurnalis dari CNN Indonesia yang dinarasikan membongkar dalang dari keracunan MBG. Akibat perbuatannya itu, ia kini ditahan oleh aparat kepolisian. 

“Konten tersebut juga menyebutkan narasi yang bombastis seperti aksi nekat Valencia tersebut dalam rangka membongkar aib publik yang berarti membongkar aib negara” ujar Dudy lebih lanjut. 

Menurut data Evello, sebaran konten hoaks ini dominan berada di platform Meta, yakni Facebook dan Instagram dibandingkan platform lain seperti X dan Tiktok. 

“Sebaran dan interaksi tertinggi konten hoaks ini mencapai 31.889 total engagement di Facebook dengan sebaran sebanyak 2.344 kali dan 8.478 percakapan” terang Dudy lebih lanjut. 

Sementara menurutnya, interaksi di Instagram mencapai 7.080 percakapan dengan interaksi mencapai 29.393 likes. 

BACA JUGA: Program MBG, Ketahanan dan Keamanan  Rantai Pasok Pangan Jadi Kunci Kualitas

Tak hanya melihat jumlah konten dan engagement, Evello juga melakukan analisa mendalam untuk melihat profil psikologis yang terbentuk dari sebaran dan intreaksi hoaks tersebut. 

Evello menemukan dampak dari sebaran konten hoaks ini membuat 50% percakapan mengarah pada krisis kepercayaan terhadap hukum dan pemerintahan. Arah percakapan pada kelompok ini sangat didominasi oleh perasaan agresif yang terbentuk karena rasa marah dan antisipasi. 

Tak hanya itu, Evello melihat arah percakapan sebanyak 30% pada kegagalan dan korupsi program MBG dan 20% percakapan sangat politis karena berisikan narasi penyesalan elektoral. 

Dari analisa diatas, Evello sampai pada kesimpulan bahwa hoaks ini digerakkan oleh kelompok tertentu yang memang aktif secara politik dan berharap bisa membangun suasana permusuhan lebih luas. 

Sayangnya, sejauh ini Meta sebagai pemilik platform tidak berusaha untuk melakukan moderasi konten sehingga konten tersebut bebas diunggah dalam waktu nyaris bersamaan. 

Sementara menurut Dudy, isu serupa di X dimoderasi oleh Grok sebanyak empat kali dan secara konsisten menyebutkan konten tersebut mengandung Hoaks. 

“Sebaran dan interaksi konten ini di X tidak cukup besar karena aplikasi AI milik X memoderasi unggahan tersebut sebagai konten DFK” ujar Dudy lebih lanjut.