Imlek Nasional 2577 Kongzili Digelar, Angkat Tema Keadilan dan Keharmonisan Bangsa

AKM • Sunday, 22 Feb 2026 - 21:39 WIB
Perayaan Hari Raya Keagamaan Khonghucu Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tingkat nasional (Istimewa)

Jakarta — Perayaan Hari Raya Keagamaan Khonghucu Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tingkat nasional digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (22/2). Acara yang mengusung tema *“Bila Ada Keadilan, Tiada Persoalan Kemiskinan”* ini menjadi momentum refleksi nilai keadilan dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua Dewan Kehormatan Matakin Jimly Asshiddiqie, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, serta Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar. Hadir pula Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Teddy Sugianto dan para tokoh agama serta pimpinan lembaga negara.

Imlek sebagai Identitas Bangsa

Ketua Umum Matakin, Budi Santoso Tanuwibowo

Ketua Umum Matakin, Budi Santoso Tanuwibowo, menyampaikan bahwa Imlek memiliki makna mendalam dan tidak hanya dipahami sebagai perayaan budaya.

“Momentum ini menjadi ajakan untuk meninggalkan hal-hal buruk dan memulai lembaran baru dengan pikiran jernih,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa tahun 2577 Kongzili merupakan bagian dari salah satu sistem penanggalan yang hidup di Indonesia, berdampingan dengan Masehi, Hijriah, Saka, dan Jawa. Menurutnya, hal ini mencerminkan keberagaman yang telah menjadi bagian dari identitas nasional.

Mengangkat tema keadilan, Budi menekankan bahwa nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam kehidupan berbangsa. Ia menyinggung bahwa prinsip keadilan termaktub dalam sila kedua dan kelima Pancasila.

“Apabila keadilan ditegakkan, maka persoalan kemiskinan, perpecahan, hingga ketimpangan sosial dapat diminimalisasi,” katanya

Ia juga menegaskan bahwa keadilan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Aspirasi Pembentukan Ditjen Bimas Khonghucu

Dalam sambutannya, Budi turut menyampaikan harapan agar pemerintah membentuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Khonghucu di bawah Kementerian Agama guna memperkuat pelayanan dan pembinaan umat secara kelembagaan.

Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyatakan dukungan terhadap aspirasi tersebut.

“Tidak boleh ada satu pun warga yang merasa terasing di Republik Indonesia. Saya berharap Bapak Menteri Agama dapat segera mewujudkan pembentukan Ditjen Khonghucu sebagai wujud kehadiran negara yang paripurna,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi umat Khonghucu dalam memperkaya keberagaman Indonesia.

“Eksistensi umat Khonghucu dan etnis Tionghoa bukanlah kebetulan sejarah. Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian adalah bagian dari mozaik keberagaman Indonesia. Kementerian Agama akan selalu menjadi rumah besar bagi seluruh umat,” ucapnya.

Penguatan Kepedulian Sosial

Selain refleksi nilai keadilan, rangkaian perayaan Imlek nasional juga diisi dengan kegiatan bakti sosial. Matakin mengajak para undangan untuk berpartisipasi membantu korban bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, bekerja sama dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).

Budi menambahkan, semangat gotong royong dan solidaritas sosial menjadi kunci agar Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan.

“Saya berharap nilai-nilai keadilan, bakti, dan kepedulian yang terkandung dalam Imlek dapat terus menjadi energi moral bagi bangsa menuju masa depan yang lebih harmonis dan sejahtera,” tutupnya.

Perayaan Imlek Nasional 2577 Kongzili tahun ini sekaligus menjadi penegasan ruang kebebasan beragama yang semakin terbuka dalam kerangka demokrasi Indonesia yang inklusif dan berkeadaban.