
Harapan baru bagi pasien kanker, untuk anda penyintas ataupun keluarga dengan pasien kanker, kini ada harapan yang baik untuk menjalani terapi, tak perlu lagi ke luar negeri, layanan radioterapi terintegrasi berbasis artificial intelligence (AI) yang memungkinkan proses deteksi hingga terapi kanker dilakukan lebih cepat dan presisi dalam satu alur perawatan.
Penderita kanker di Indonesia kini tak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk menjalani terapi. Pemanfaatan AI dalam layanan radioterapi ini menyatukan proses pencitraan diagnostik dan terapi kanker, sehingga pasien tidak perlu menjalani tahapan perawatan yang terpisah dan berulang.
Pendekatan tersebut dinilai mampu memangkas waktu tunggu terapi sekaligus meningkatkan akurasi penanganan kanker.
Penerapan AI memungkinkan perencanaan terapi dilakukan secara adaptif sesuai kondisi pasien.
Setiap sesi radioterapi dapat disesuaikan dengan perubahan anatomi harian, sehingga ketepatan penargetan tumor meningkat tanpa meningkatkan paparan radiasi ke jaringan sehat. Selain meningkatkan presisi, AI juga menyederhanakan alur kerja radioterapi.
Proses yang sebelumnya membutuhkan perencanaan manual selama berjam-jam kini dapat dilakukan lebih cepat dalam satu sistem terintegrasi, dengan waktu perawatan sekitar 15–25 menit.
Percepatan ini dinilai krusial bagi pasien kanker, mengingat keterlambatan terapi dapat memengaruhi perkembangan penyakit dan efektivitas pengobatan.
Integrasi teknologi ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap perawatan kanker yang lebih cepat dan berkualitas, mengurangi ketergantungan pada layanan luar negeri, serta menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas layanan kanker nasional di Indonesia.
Layanan ini dihadirkan MRCCC Siloam Semanggi, yang berfokus pada penyederhanaan proses perawatan agar pasien dapat memperoleh terapi yang lebih cepat, terintegrasi, dan presisi di dalam negeri.
Sebagai pusat layanan kanker terpadu, MRCCC Siloam Semanggi saat ini menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang mengoperasikan sistem radioterapi terintegrasi berbasis AI tersebut.
Keberadaan teknologi ini tidak hanya mempercepat proses perawatan, tetapi juga membuka peluang pengembangan layanan serupa di masa mendatang, seiring dengan kebutuhan penanganan kanker yang terus meningkat di Indonesia.
Presiden Direktur Siloam Hospitals Group, Caroline Riady menyatakan, kini layanan sudah jadi satu. Dulu prosesnya bisa berhari-hari dan pasien harus bolak-balik. Sekarang satu kali dikerjakan dari awal sampai akhir dalam hitungan menit sudah selesai.
Pasien tidak dipindah-pindah dan penyinaran menjadi lebih presisi karena teknologi pencitraan yang lebih baik dibantu dengan AI, sehingga dapat mengurangi kerusakan pada organ-organ sekitar yang sebenarnya sehat.
Sementara Spesialis Onkologi Radiasi MRCCC Siloam Semanggi, dr. Denny Handoyo Kirana, SpOnkRad (K), menyebutkan layanan ini masih akan terus dievaluasi secara ketat, baik dari sisi hasil terapi maupun efek sampingnya.
Mereka akan mengevaluasi dengan ketat keberhasilan treatment, efek samping, hingga kebutuhan perawatan alatnya. Tidak menutup kemungkinan ke depan layanan serupa dapat diterapkan di rumah sakit Siloam lainnya.