KLH dan Kemdiktisaintek Gandeng Akademisi untuk Penataan Ruang Pascabencana Sumatera

FAZ • Tuesday, 23 Dec 2025 - 20:22 WIB

JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup (LH) menggandeng Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta puluhan universitas dalam upaya penanganan pascabencana di Sumatera. Kolaborasi ini difokuskan pada penataan ruang hingga pembangunan hunian tetap bagi korban bencana.

Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, sinergi lintas kementerian dan kalangan akademisi diperlukan agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dilakukan secara terencana dan berkelanjutan.

“Kami bersama Bapak Menteri Diktisaintek Prof Brian sedang memformulasikan penguatan karena beberapa langkah telah kita lakukan bersama,” ujar Hanif dalam konferensi pers di Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta Selatan, Selasa (23/12/2025).

Hanif menjelaskan, Kementerian LH dan Kemdiktisaintek saat ini tengah melakukan penilaian cepat atau rapid assessment sebagai dasar penanganan pascabencana. Proses tersebut melibatkan puluhan universitas, pakar, serta teknokrat di lingkungan Kementerian LH.

Menurutnya, rapid assessment ditargetkan rampung pada Januari 2026. Hasil kajian ini akan menjadi acuan dalam pembangunan hunian tetap yang berada di lokasi aman dan jauh dari potensi bencana.

“Kami harapkan rapid assessment ini bisa selesai pada Januari 2026, sehingga pembangunan hunian tetap dapat dilakukan di wilayah yang aman dari potensi bencanakemudian hunian menetapnya nanti terbangun ini jauh dari potensi bencana ini menjadi sangat penting,” kata dia.

Ia menyebutkan, rapid assessment tersebut dilakukan melalui dua skema. Pertama, penentuan kesesuaian lokasi oleh Kementerian LH bersama para pakar. Kedua, perencanaan layout kota dan permukiman yang melibatkan Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia.

Selain itu, Kementerian LH bersama Kemdiktisaintek juga akan melakukan evaluasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sebagai dasar penyusunan kebijakan tata ruang wilayah dan sektor.

“Dari sisi lanskap, kawasan, dan daratan, kita bersama Pak Menteri Diktisaintek akan mengevaluasi pelaksanaan KLHS yang menjadi landasan penyusunan kebijakan wilayah dan sektor,” ujar Hanif.

Hanif menambahkan, hasil evaluasi tersebut akan membandingkan rencana pembangunan tata ruang dengan kondisi wilayah saat bencana banjir terjadi. Hal ini akan menjadi pertimbangan utama dalam proses rehabilitasi pascabencana.

“Tiga tahapan ini kita susun dalam waktu tiga bulan dan harus selesai. Paling tidak pada Maret, jadi kajian lingkungan hidup strategis yang akan mengevaluasi tata ruang akan kami selesaikan dengan Pak Menteri Diktisaintek,” ucapnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan, keterlibatan kalangan akademisi sangat penting dalam penanganan pascabanjir di Sumatera. Ia mengapresiasi langkah Kementerian LH yang melibatkan Kemdiktisaintek sejak awal.

“Kami mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada Bapak Menteri Lingkungan Hidup yang telah melibatkan kami dalam penanganan pascabencana ini,” kata Brian.

Brian menuturkan, Kemdiktisaintek akan meminta para rektor dari berbagai universitas untuk merekomendasikan dosen dan guru besar sesuai bidang keahlian, seperti kehutanan, lingkungan hidup, hidrogeologi, teknik sipil, dan tata ruang.

Para akademisi tersebut akan tergabung dalam tim multidisiplin di bawah arahan Kementerian LH untuk melakukan kajian dan penelitian berbasis sains dan teknologi.

“Melakukan penelitian-penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik, secara ilmu pengetahuan sains dan teknologi. Sehingga mereka akan memberikan hasil kajian seobjektif mungkin,” tutur Brian.