Masih Tertinggal, Angka Partisipasi Kasar Pendidikan Tinggi Indonesia Baru Capai 32%

AKM • Monday, 8 Dec 2025 - 12:59 WIB
Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti, Kementerian Pendidikan Tinggi, Saint dan Teknologi (Kemendiktisaintek)  Dr. Mukhamad Najib (Istimewa)

Bogor - Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti, Kementerian Pendidikan Tinggi, Saint dan Teknologi (Kemendiktisaintek)  Dr. Mukhamad Najib, memaparkan soal visi Indonesia Maju 2045 yang mensyaratkan peningkatan pendapatan per kapita hingga 30.000 USD per tahun. 

“Kondisi itu hanya dapat dicapai melalui dua prasyarat utama yakni peningkatan proporsi highly skilled worker dan penguatan kapasitas inovasi nasional,” ujar Nazib, dalam acara ‘Journalist Bootcamp Dikti 2025: Sinergi Dikti dan Media untuk Kampus Berdampak’, Bogor, Sabtu (6/12/25).

Menurut Nazib, saat ini, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi Indonesia baru 32%, jauh di bawah beberapa negara ASEAN. Sementara proporsi lulusan sarjana yang dapat dikategorikan sebagai highly skilled worker baru sekitar 11%. 

“Karena itu, pemerintah mendorong perluasan akses pendidikan, termasuk melalui optimalisasi peran KIP Kuliah dan reformasi tata kelola kampus,” jelasnya.

“Dalam aspek inovasi, Najib menjelaskan bahwa indeks inovasi Indonesia masih berada jauh di bawah negara-negara maju. Padahal, inovasi yang lahir dari kampus merupakan fondasi penting bagi industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi,”paparnya.

Ia mencontohkan keberhasilan Universitas Bandar Lampung yang menerima pendanaan jutaan dolar untuk pengembangan mikrosatelit guna eksplorasi bulan—sebuah capaian besar yang belum banyak diketahui publik.

“Banyak inovasi luar biasa di kampus, tetapi tidak terpublikasi. Padahal publikasi yang baik akan memudahkan hilirisasi, meningkatkan kepercayaan, dan menghubungkan kampus dengan mitra industri,” ungkap Najib.

Najib juga menyoroti perlunya media untuk membantu menerjemahkan bahasa riset menjadi informasi yang lebih mudah dipahami publik. Hal ini sekaligus mengatasi dominasi narasi negatif di ruang publik yang seringkali menutupi capaian positif perguruan tinggi.

Ditambahkannya bahwa sinergi antara kampus dan media menjadi kunci untuk mendorong publikasi riset, memperluas dampak kebijakan, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data (evidence-based policy).

Selain itu, Kementerian tengah mempersiapkan langkah-langkah untuk mempermudah akses publik terhadap data pendidikan tinggi melalui PD Dikti, termasuk penomoran ijazah nasional untuk mencegah pemalsuan dan meningkatkan transparansi.

“Ketersediaan data yang mudah diakses akan memperkuat kepercayaan publik sekaligus membantu jurnalis dalam proses verifikasi,” imbuh Najib.

Di sisi lain, Ditjen Diktiristek terus mendorong kampus untuk tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga memberikan solusi atas persoalan nyata di masyarakat. Contoh konkret antara lain KKN Literasi di berbagai daerah dan kolaborasi kampus dalam penanganan persoalan sampah di Jogja dan Bandung.

“Dengan narasi positif berbasis riset dan inovasi, kampus Indonesia diharapkan mampu memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan nasional dan percepatan Indonesia Emas 2045,” ujar Najib.

Kesenjangan Publikasi

Sementata itu, Direktur Kelembagaan, Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti), Kemdiktisaintek, Prof Mukhamad Najib menyoroti persoalan besar yang selama ini jarang dibahas, yaitu kesenjangan publikasi antara apa yang dilakukan kampus dan apa yang diketahui publik.

Akibatnya, berbagai riset strategis dan inovasi penting dari perguruan tinggi kerap tidak terdengar luas, bahkan hilang tanpa jejak di ruang publik.

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Ditjen Dikti, Kemdiktisaintek, Prof Setiawan secara daring. Hadir pula Staf Ahli Wamendiktisaintek, Gufron Amirullah.

Prof Najib mengatakan, sebenarnya banyak kampus memiliki karya besar, tetapi tidak memiliki strategi komunikasi publik yang memadai.

“Kami melihat kesenjangan yang sangat lebar. Riset kampus melesat maju, namun publikasinya macet. Akhirnya masyarakat tidak tahu betapa majunya perguruan tinggi kita,” ujarnya.

Ia mencontohkan Universitas Bandar Lampung (UBL), yang ternyata berhasil mengembangkan mikrosatelit untuk eksplorasi bulan dan memperoleh hibah jutaan dolar dari NASA Tiongkok.

“Fakta mengejutkan ini saya dapat saat mendampingi Pak Wamen ke kampus UBL. Mereka berhasil membuat riset berkelas internasional, tetapi nyaris tidak diketahui publik,” tuturnya.