Forum Indonesia Economic Outlook 2026 Ungkap Peluang Baru Investasi & Pariwisata

FAZ • Tuesday, 2 Dec 2025 - 20:34 WIB

JAKARTA - Pemerintah mencatat realisasi investasi tetap tumbuh solid menjelang 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, realisasi investasi pada periode Januari hingga September 2025 mencapai Rp 1.434,3 triliun, meningkat hampir 13 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan investasi tersebut turut menciptakan 1,95 juta lapangan kerja baru. Adapun investasi kumulatif di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mencapai Rp 294,4 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 187.000 orang, terutama dari sektor pariwisata.

“Indonesia terus menunjukkan ketahanan dan daya tarik investasi yang kuat,” kata Airlangga dalam pembukaan Business Forum Indonesia Economic Outlook 2026 bertajuk Strategic Partnerships for Business, Trade & Tourism Investment, Selasa (2/12/2025). 

Airlangga menambahkan, pada semester pertama 2025, realisasi investasi mencapai Rp 340,2 triliun, atau 60 persen dari target nasional. Capaian ini naik 44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari total tersebut, investasi asing langsung (FDI) menyumbang 26 persen.

Sementara itu, APBN 2026 akan tetap diarahkan untuk memperkuat sektor strategis seperti ketahanan pangan, energi, gizi, dan pendidikan. Total alokasi anggaran mencapai sekitar Rp 3.250 triliun, termasuk Rp 450 triliun untuk memperkuat sektor-sektor inti tersebut. "Kebijakan ini diperkirakan menciptakan efek pengganda yang besar bagi perekonomian," ungkap Airlangga.

Sejalan dengan penguatan tersebut, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani menargetkan, investasi sebesar Rp2.175,26 triliun pada tahun 2026, naik 14,2% dari target tahun 2025, dengan fokus pada hilirisasi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%. 

"Target ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,33% oleh Bank Indonesia (BI) pada 2026," ujar Rosan. 

Penguatan arus investasi ini juga berimplikasi langsung pada sektor-sektor pendukung perekonomian, termasuk pariwisata dan industri MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions), yang memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas bisnis dan rantai pasok nasional.

Sektor pariwisata melalui industri MICE terus menunjukkan peran strategis dalam perekonomian. Kementerian Pariwisata menargetkan kontribusi devisa sektor MICE meningkat dari 10% menjadi 15% pada 2029 melalui penguatan ekosistem event nasional dan perluasan lapangan kerja. 

Hingga September 2025, pemerintah telah mendukung 134 event yang menghadirkan 10,8 juta pengunjung, melibatkan sekitar 95 ribu pekerja event dan 44.800 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta menghasilkan perputaran ekonomi sebesar Rp11,82 triliun. 

Data tersebut menegaskan bahwa sektor MICE bukan hanya menjadi motor pemulihan industri pariwisata, tetapi juga menjadi pilar penting dalam agenda pertumbuhan ekonomi jangka menengah.

Arah kebijakan ekonomi nasional, proyeksi pertumbuhan serta penguatan sektor MICE menjadi landasan bagi Krista Exhibitions dalam menghadirkan forum strategis yang mempertemukan pelaku usaha, pembuat kebijakan, dan investor. 

Melalui penyelenggaraan THE 3rd Business, Trade & Tourism Investment Business Forum bertema “Indonesia Economic Outlook 2026: Strategic Partnerships for Business, Trade & Tourism Investment,” ini Krista Exhibitions menegaskan komitmennya menyediakan platform kolaboratif yang mendalam untuk memahami arah ekonomi Indonesia tahun 2026 sekaligus membuka peluang kemitraan dan investasi lintas sektor. 

Forum ini menghadirkan pakar ekonomi, duta besar atau perwakilannya, asosiasi industri dan lembaga bisnis internasional untuk membahas perkembangan ekonomi global, proyeksi pertumbuhan nasional, serta potensi investasi di tahun mendatang. 

Melalui pendekatan multi-sektor, diskusi memberikan wawasan menyeluruh mengenai peluang yang dapat dioptimalkan dunia usaha, khususnya di sektor manufaktur dan MICE yang berperan penting dalam memperkuat struktur ekonomi nasional.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menyampaikan bahwa tahun 2026 merupakan periode penting bagi akselerasi industri nasional. 

“Business Forum ini kami selenggarakan untuk memberikan wawasan komprehensif kepada para pelaku usaha mengenai tren ekonomi global, perkembangan teknologi, serta peluang baru di sektor manufaktur dan MICE yang menjadi motor penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkap Daud.

Rangkaian sesi dalam Business Forum membahas proyeksi ekonomi 2026, dinamika ekonomi global dan regional, kebijakan percepatan investasi, serta pandangan strategis berbagai sektor industri dan perdagangan.

Pertumbuhan industri MICE turut menjadi sorotan melalui pemaparan tren pameran internasional, kontribusi sektor B2B bagi perekonomian, dan strategi menjadikan Indonesia sebagai hub pameran terkemuka di Asia Tenggara. 

Forum ini juga menghadirkan sesi business matching dan networking untuk mendorong kerja sama konkret dan membuka peluang bisnis baru bagi para pelaku industri.

Sebagai penyelenggara pameran internasional selama lebih dari 31 tahun, Krista Exhibitions terus memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan industri nasional melalui penyediaan platform bisnis yang relevan, strategis dan berdampak luas. 

Memasuki tahun 2026, Krista Exhibitions kembali menggelar rangkaian pameran lintas sektor di berbagai kota di Indonesia, menghadirkan peluang kolaborasi dan pengembangan industri yang semakin terintegrasi.

Rangkaian pameran industri makanan dan minuman Krista Exhibitions pada tahun 2026 akan diselenggarakan di Yogyakarta, Surabaya, Bali dan Jakarta. 

Pameran diawali di kota Yogyakarta melalui Jogja Food & Beverage Expo yang berlangsung bersamaan dengan JPE – Jogja International Printing Expo dan Jogja Pack Expo. 

Selanjutnya, rangkaian pameran berlanjut ke Surabaya dengan IIFEX – Eastfood Indonesia Expo, kemudian Bali Interfood Expo di Bali dan ditutup dengan pameran makanan minuman terbesar di Asia Tenggara, SIAL Interfood Expo, yang diselenggarakan bersamaan dengan Seafood Show Asia Expo dan All Indonesia Cooltech Expo di NICE PIK, Jakarta.
Selain sektor makanan dan minuman, Krista Exhibitions juga menghadirkan pameran di bidang kecantikan, tekstil, kesehatan, serta teknologi audiovisual, pencahayaan, dan panggung melalui penyelenggaraan IndoBeauty Expo, ILF – Indo Leather & Footwear Expo, IGT – Indo Garment & Textile Expo, IndoHealthcare Gakeslab Expo, serta PRO AVL Indonesia Expo.

Momentum penyelenggaraan pameran berlanjut dengan rangkaian acara di industri printing dan packaging, mulai dari Surabaya Printing Expo di Surabaya hingga All Print Expo di Jakarta yang digelar bersamaan dengan All Cold Chain Logistics & Transportation Expo, Indonesia Maritime & Logistics Expo, dan All Agri Expo. Agenda ini dilanjutkan dengan pameran packaging EastPack Surabaya yang berlangsung bersamaan dengan East Beauty Pack, serta pameran di Jakarta melalui All Pack Indonesia Expo yang terselenggara bersamaan dengan Allplas Indonesia Expo, pameran internasional terbesar di Asia Tenggara untuk industri packaging, plastik dan processing.

Dengan terselenggaranya Business Forum ini serta rangkaian pameran industri sepanjang 2026, Krista Exhibitions berkomitmen memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku industri dan mitra internasional guna membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

Krista Exhibitions meyakini bahwa kerja sama lintas sektor yang terbangun melalui forum ini akan menjadi fondasi penting bagi perluasan investasi, inovasi dan transformasi industri menuju masa depan yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.