
Jakarta — Dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara, PT Cetta Satkaara (Satkaara Communications) bersama SELANGKAH (Semangat Lawan Kanker) by Siloam International Hospitals menggelar program skrining kanker payudara gratis untuk guru, insan media, dan keluarga mereka di 25 kota di Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari Satkaara Berbagi, inisiatif sosial yang menegaskan kepedulian Satkaara terhadap mitra utamanya yaitu pendidik dan media yang berperan penting dalam membangun kesadaran publik.
Melalui kegiatan ini, Satkaara dan Siloam ingin memperluas akses deteksi dini sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam melawan kanker payudara.
“Guru dan jurnalis memiliki peran strategis sebagai pembawa pesan di masyarakat. Karena itu, mereka kami ajak untuk menjadi bagian dari gerakan edukasi kesehatan ini bersama keluarganya,” ujar Ruth Andriani, Senior Advisor Satkaara Communications.

Program SELANGKAH by Siloam sendiri menargetkan 50.000 perempuan untuk mendapatkan pemeriksaan gratis melalui USG dan mammografi di 35 jaringan rumah sakit Siloam di 18 provinsi. Hingga November 2025, lebih dari 50.000 peserta telah berpartisipasi, dengan hampir 1% di antaranya menunjukkan indikasi keganasan dan direkomendasikan untuk pemeriksaan lanjutan.
Kolaborasi ini bahkan menjangkau tenaga pendidik asal Timor Leste melalui layanan di Siloam Hospitals Kupang, dengan lebih dari 300 peserta yang telah mengikuti program dan kegiatan akan berlanjut hingga tahun 2026.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, Satkaara dan SELANGKAH juga mengadakan webinar bertema “Langkah Nyata Lawan Kanker Payudara: Dari Edukasi ke Aksi”, menghadirkan dr. Rosary dari MRCCC Siloam Hospitals Semanggi.

Dalam paparannya, dr. Rosary menekankan pentingnya deteksi dini melalui metode SADARI (pemeriksaan mandiri) dan SADANIS (pemeriksaan klinis), yang terbukti mampu meningkatkan peluang kesembuhan hingga hampir 100% bila dilakukan sejak stadium awal.
Kolaborasi antara Satkaara dan Siloam menjadi contoh nyata bahwa sinergi antara komunikasi, pendidikan, dan kesehatan dapat menciptakan dampak besar. Melalui komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), Satkaara terus menggerakkan para guru di seluruh Indonesia untuk menjadi agen perubahan dalam meningkatkan literasi kesehatan di lingkungannya.
“Mari kita ubah stigma menjadi pemahaman, takut menjadi keberanian, dan diam menjadi aksi nyata. Karena setiap langkah menuju deteksi dini adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik dan penuh harapan,” tutup Ruth Andriani.
Program ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor antara dunia komunikasi, pendidikan, dan kesehatan dapat menghasilkan dampak nyata serta membangun kesadaran, membuka akses, dan menyelamatkan lebih banyak kehidupan perempuan Indonesia.