.jpeg)
Jakarta - Di tengah isu populasi petani yang kian menua, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) telah menuntaskan pelatihan wirausaha tani untuk anak muda Indonesia, menandai awal perjalanan transformatif mereka.
Hampir 80% petani Indonesia berusia 40 tahun ke atas menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023. Sektor pertanian merupakan penyedia lapangan kerja terbesar di Indonesia, menyerap sekitar 30% dari populasi usia kerja Indonesia atau sekitar 40 juta orang, menurut data BPS terbaru. Sementara itu, hampir separuh dari pengangguran adalah kaum muda berusia 15-29 tahun.
Melalui program Petani Keren, 100 anak muda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Jakarta dan Lampung untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan kerja lapangan tentang sistem pertanian inovatif dan kewirausahaan dari tahun 2024 hingga 2025. Program ini memperkenalkan anak muda pada pertanian modern dan berkelanjutan guna memitigasi dampak perubahan iklim.
Di tengah tantangan perubahan iklim, ketahanan pangan, dan ketimpangan ekonomi, anak muda harus muncul sebagai pemimpin dalam membangun masa depan pangan Indonesia—secara aktif sebagai subjek, bukan sekadar objek, dalam pembuatan kebijakan, ujar Yohan, Deputi Bidang Layanan Kepemudaan Kemenpora.
“Oleh karena itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga akan berkolaborasi melanjutkan sinergi dengan FAO dan para mitra strategis agar program ini tidak berhenti di sini, tetapi berlanjut dalam bentuk kolaborasi lintas sektor, serta mengintegrasikan hasil dan modul pelatihan ke dalam berbagai program kewirausahaan dan kepemudaan Kemenpora,” tegas Yohan.
Program Petani Keren telah mengembangkan modul pembelajaran yang disesuaikan dengan usia. Modul ini mencakup pembelajaran dari ladang hingga pasar, dimulai dengan memetakan keanekaragaman hayati pertanian lokal dan permintaan pasar, menerapkan pertanian ramah lingkungan dan berteknologi tinggi, hingga akhirnya anak muda bisa mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah dan mengembangkan agribisnis mereka sendiri.

Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, mengatakan program ini merupakan langkah penting untuk menarik minat anak muda di bidang pertanian yang menawarkan banyak peluang.
“Anak muda harus memanfaatkan berbagai peluang untuk berpartisipasi dalam tata kelola sistem pangan dan mengintegrasikan perspektif mereka ke dalam kebijakan untuk mewujudkan sistem pangan yang adil dan berkelanjutan bagi semua,” ujar Rajendra.
Guna menyuarakan aspirasi anak muda, dialog interaktif juga digelar antara perwakilan anak muda dan para pembuat kebijakan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga, dalam upacara penutupan. Dialog ini memberikan wadah bagi anak muda untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam proses pengambilan keputusan dan transformasi sistem pertanian pangan Indonesia.
"Saya harap Petani Keren menandai awal bagi kita untuk memperluas jaringan dengan berbagai pemangku kepentingan, menyatukan tujuan bersama untuk memajukan pangan dan pertanian Indonesia, serta mewujudkan inovasi dan ide-ide yang berorientasi solusi menjadi tindakan nyata," ujar salah satu peserta, Shabrina Nur Ain, 23 tahun.
Tentang program Petani Keren
Inisiatif Petani Keren dimulai pada tahun 2024 di bawah modalitas Program Kerja Sama Teknis (TCP) FAO untuk menarik minat pemuda Indonesia dalam wirausaha tani, dengan dukungan pemerintah, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Inisiatif ini pertama kali digagas oleh delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Kepala Staf Kepresidenan saat itu, Moeldoko, pada Forum Pangan Dunia (WFF) 2023, yang diselenggarakan di Kantor Pusat FAO di Roma, Italia. Dalam pertemuan bilateral tersebut, Direktur Jenderal FAO, QU Dongyu, berkomitmen untuk mendukung Indonesia.
Pelatihan percontohan pertama dilaksanakan di Jakarta dengan total 38 peserta dari tanggal 14 Oktober – 20 Desember 2024, sementara pelatihan kedua dilaksanakan di Lampung dengan total 31 peserta dari tanggal 17 Juni – 29 Juli 2025. Pelatihan ketiga dan terakhir ditutup di Jakarta dengan total 31 peserta dari tanggal 16 September – 14 Oktober 2025.
Proyek ini juga telah membangun model pertanian inovatif yang mengintegrasikan teknologi digital, metode praktis, dan keberlanjutan lingkungan, seperti rumah kaca, sebagai wadah pendidikan di Jakarta dan Lampung. Untuk mendorong adopsi teknologi, program Petani Keren juga memperkenalkan anak muda pada pendekatan pertanian cerdas dan pertanian semi-intensif, yang dipadukan dengan metode pertanian berkelanjutan seperti permakultur. (*ITK/R)