
Jakarta — Di tengah maraknya praktik pinjaman online (pinjol) ilegal yang kerap menjerat masyarakat, platform fintech Rupiah Cepat berupaya menghadirkan solusi yang lebih aman dan berizin melalui kegiatan literasi keuangan bagi penyandang disabilitas. Melalui kegiatan bertema “Pemerataan Akses Keuangan untuk Kalangan Disabilitas” yang digelar di GoWork Menara Rajawali, Kuningan, Kamis (9/10).
Rupiah Cepat menggandeng Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) untuk memberikan edukasi finansial sekaligus menyalurkan dana CSR senilai Rp100 juta sebagai bentuk dukungan terhadap pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas. Dana tersebut akan digunakan untuk kegiatan pelatihan dan penguatan kapasitas finansial para anggotanya.
Langkah ini sejalan dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam momentum Bulan Inklusi Keuangan Nasional (BIKN) 2025, yang menekankan pentingnya akses keuangan bagi kelompok rentan. Meski indeks literasi dan inklusi keuangan Indonesia terus meningkat, masing-masing mencapai 66,4% dan 80,51% menurut data SNLIK 2025—penyandang disabilitas masih menghadapi kesenjangan besar.
Data BPS 2023 mencatat, hanya 24,3% penyandang disabilitas usia di atas 15 tahun yang memiliki rekening bank, dan kepemilikan produk keuangan swasta masih di bawah 2%.
Direktur Utama Rupiah Cepat, Anna Maria Chosani, mengatakan pihaknya ingin membuka akses yang lebih luas bagi kelompok disabilitas agar bisa menikmati layanan keuangan digital dengan aman dan bijak.
“Kami percaya bahwa inklusi keuangan bukan hanya soal akses terhadap pinjaman atau produk keuangan, tetapi juga tentang pemahaman dan kepercayaan diri untuk mengelola uang secara mandiri,” ujar Anna.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Yasmine Meylia, menilai kegiatan ini sejalan dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang tengah gencar memperluas akses keuangan bagi penyandang disabilitas.
“Penyandang disabilitas juga berhak atas literasi dan layanan keuangan yang adil. Edukasi seperti ini penting agar mereka bisa berpartisipasi aktif dalam ekosistem keuangan digital,” katanya.
Ketua Umum PPDI, H. Norman Yulian, turut mengapresiasi langkah Rupiah Cepat. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak daerah.
“Masih banyak teman-teman disabilitas yang belum memahami cara menggunakan layanan keuangan digital. Dengan edukasi seperti ini, kami bisa belajar menghindari risiko penipuan dan memanfaatkan teknologi untuk kesejahteraan,” ujarnya.
Melalui inisiatif ini, Rupiah Cepat tak sekadar mengajarkan cara mengelola uang, tetapi juga menanamkan kepercayaan diri finansial bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan.
Karena di tengah hiruk pikuk pinjaman daring, edukasi adalah benteng pertama, dan inklusi adalah jembatan menuju masa depan ekonomi digital yang lebih adil, aman, dan setara untuk semua.
Tentang Platform
Sejak berdiri pada tahun 2017, Rupiah Cepat telah melayani sekitar 6,9 juta penerima dana dengan jumlah dana yang tersalurkan lebih dari Rp31,8 triliun. Rupiah Cepat juga menerapkan sistem manajemen keamanan informasi dengan sertifikasi ISO 27001 guna memastikan keamanan data pengguna.
Sebagai anggota AFPI yang diawasi OJK, Rupiah Cepat berkomitmen memperluas akses keuangan digital yang aman, inklusif, dan berkelanjutan. (AYN)