
Jakarta Utara – Sebuah lahan terbengkalai yang dulu sering disalahgunakan untuk aktivitas ilegal kini berubah wajah menjadi ruang hijau produktif. Itulah Kebun Saung Asri 2, yang berlokasi di RT 001 RW 003, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
Melalui program hibah pengabdian masyarakat yang dibiayai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2025, Universitas Mercu Buana bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Saung Asri 2 mengembangkan kebun ini menjadi pusat urban farming yang tidak hanya memberi manfaat lingkungan, tetapi juga menopang ekonomi warga.
Dari Lahan Bermasalah Jadi Kebun Edukatif
Sebelumnya, area Saung Asri 2 kerap menjadi lokasi perjudian dan aktivitas negatif. Namun berkat inisiatif tokoh masyarakat, lahan tersebut diubah menjadi kebun dengan tanaman sayur, buah, obat-obatan, hingga kolam ikan. Bahkan, warga mampu memproduksi keripik bayam dengan Nomor Induk Berusaha (NIB), yang kini menjadi sumber penghasilan tambahan.
Meski sudah produktif, kebun masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan dana, sarana produksi, dan manajemen usaha. “Kami ingin kebun ini berkembang lebih maju, tidak hanya untuk hijau-hijauan, tapi juga benar-benar membantu ekonomi keluarga,” ujar Rifqiyati, Ketua KWT Saung Asri 2.
Sinergi Kampus dan Komunitas
Program ini digawangi oleh Suciati Permata, dosen Arsitektur Universitas Mercu Buana, bersama tim lintas bidang. Mereka menggandeng mahasiswa untuk turun langsung ke lapangan. Kegiatan meliputi:
Produksi: penyediaan bibit unggul, penerapan hidroponik sistem NFT, dan irigasi tetes hemat air.
Manajemen usaha: pelatihan pencatatan keuangan digital serta penggunaan QRIS untuk transaksi nontunai.
Pemasaran: pendampingan strategi promosi digital agar produk kebun bisa menjangkau pasar lebih luas.
Lingkungan: edukasi pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos, serta pemanenan air hujan untuk irigasi.
Menurut Suciati, kolaborasi ini tak hanya untuk warga, tetapi juga memberi pengalaman belajar berharga bagi mahasiswa. “Kebun ini kami rancang sebagai laboratorium hidup. Mahasiswa bisa praktik langsung, masyarakat mendapat manfaat nyata,” jelasnya.
Dampak Nyata bagi Warga
Program ini menargetkan peningkatan produktivitas kebun di lahan ±500 m², pengaktifan dua unit rak hidroponik, serta penerapan sistem irigasi tetes modern. Tidak hanya itu, warga dilatih untuk membuat laporan keuangan sederhana, menggunakan QRIS, dan memasarkan produk lewat media sosial serta marketplace.
Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs):
SDG 2: Tanpa Kelaparan – mendukung ketahanan pangan lokal.
SDG 8: Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi – membuka peluang usaha baru.
SDG 11: Kota & Pemukiman Berkelanjutan – menambah ruang hijau di kawasan padat penduduk.
SDG 12: Konsumsi & Produksi Bertanggung Jawab – mengedukasi pengelolaan limbah organik.
Harapan Keberlanjutan
Program pengembangan ini berlangsung selama delapan bulan, dengan rencana keberlanjutan berupa pembentukan koperasi warga dan jejaring pemasaran digital.
Dengan langkah ini, Kebun Saung Asri 2 diharapkan tidak hanya menjadi kebun komunitas, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat yang memperkuat ekonomi keluarga, kesehatan lingkungan, dan interaksi sosial. “Dari kebun kecil ini, kami ingin membuktikan bahwa kota padat pun bisa hijau, sehat, dan mandiri pangan,” pungkas Suciati.