Program Desa Mandiri Peduli Mangrove Bantu Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

ANP • Thursday, 4 Jun 2026 - 18:48 WIB
Salah satu Desa Mandiri Peduli Mangrove di kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam.

 

 

JAKARTA - Program Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM) di bawah Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengintegrasikan konservasi ekosistem mangrove dengan pemberdayaan masyarakat pesisir. Program ini mencakup silvofishery, revitalisasi ekowisata, pembibitan mangrove, serta penguatan kelembagaan dan sarana prasarana desa lainnya. Program ini merupakan implementasi dari Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (PPEM).

Salah satu daerah yang terpilih mendapat dukungan dari KLH/BPLH sebagai pelaksana DMPM adalah Desa Wisata “Pandang Tak Jemu” yang berada di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Desa ekowisata yang kini menjadi salah satu tujuan wisata di Kota Batam itu, menyajikan hamparan hijau hutan mangrove yang membuat wisatawan betah karena suasana yang teduh dan udara segar dari pepohonan mangrove.

Perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pandang Tak Jemu, Gary David Semet mengatakan desa wisata di bawah pengelolaannya itu lahir dari proses dan perjuangan panjang pegiat mangrove dan sekelompok kecil masyarakat sekitar. Setelah merintis dan mengubah desa tersebut sejak tahun 2018, kini Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip, menjadi terkenal di kalangan wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara. Bahkan pada tahun 2022, desa wisata ini mendapat penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).

“Ekowisata “Pandang Tak Jemu” ini asal mulanya adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah masyarakat yang disulap menjadi tempat wisata yang kami rintis sejak 2018 lalu. Dulu, banyak warga yang mencibir kami, tapi sekarang sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan,” kata Gary.

Menurut dia, dari banyaknya wisatawan yang datang berkunjung, beberapa di antaranya datang untuk belajar cara pelestarian ekosistem mangrove karena “Pandang Tak Jemu” mengembangkan konsep regenerative tourism. Dengan konsep ini, wisatawan tidak hanya menikmati wisata alam mangrove, tetapi juga diajak berpartisipasi aktif turut menjaga lingkungan sekitar. Contoh konkretnya adalah wisatawan ikut memungut sampah saat tour menikmati suasana alam dan juga mencoba langsung menanam mangrove di sana. Wisatawan yang berkunjung pun datang dari berbagai negara.

“Banyak yang berkunjung untuk belajar bagaimana membuat ekowisata seperti di sini. Wisatawan dari dalam negeri, banyak juga wisatawan dari luar seperti dari Malaysia, Singapore, Korea, Hongkong, Cina dan lain-lain. Mereka senang dengan tempat ini,” kata dia.

Tak hanya menjadi tujuan wisata alam, "Pandang Tak Jemu" juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi lingkungan yang diminati berbagai kalangan khususnya pelajar. Kawasan ini menjadi ruang belajar terbuka bagi anak-anak sekolah untuk mengenal lebih dekat fungsi ekologis mangrove sebagai pelindung pesisir, habitat berbagai jenis biota, serta penyerap karbon yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Setiap tahun, sejumlah sekolah dari Kota Batam maupun berbagai daerah di luar Provinsi Kepulauan Riau datang berkunjung untuk menggabungkan kegiatan rekreasi dengan pembelajaran berbasis lingkungan. Melalui program edukasi yang interaktif, para siswa mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove dan kelestarian kawasan pesisir. Mereka juga diajak terlibat langsung dalam kegiatan penanaman bibit mangrove, sehingga tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga pengalaman praktik yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini. Dengan pendekatan tersebut, Ekowisata Pandang Tak Jemu berperan sebagai sarana pembelajaran yang efektif dalam membangun generasi yang lebih sadar dan peduli terhadap upaya pelestarian alam.

“Beberapa sekolah dan mahasiswa dari universitas dan perguruan tinggi dari dalam dan luar Kota Batam juga datang ke sini untuk belajar,” kata dia.

Gary bersyukur tempatnya menjadi salah satu yang terpilih sebagai pelaksana program DMPM dari KLH/BPLH. Dengan dukungan pemerintah pusat, mereka bisa membuat banyak pengembangan di antaranya pembuatan tempat pembibitan, jembatan tracking sepanjang 50 meter, dan gazebo untuk pendidikan. Ia berharap program DMPM ini terus berlanjut dan desa wisata “Pandang Tak Jemu” bisa menjadi percontohan bagi daerah lain.

“DMPM ini anugerah. Kami sangat berterima kasih mendapat dukungan pemerintah pusat karena kami merintisnya dengan perjuangan luar biasa dan memang masih memerlukan pengembangan dan dukungan semua pihak,” ujar Gary.

Jika DMPM di Batam mengembangkan ekowisata, lain lagi cerita dari desa pesisir di Jawa Tengah yang terpilih sebagai pelaksana program DMPM. Tim Kerja (Timja) DMPM Candi Sejahtera di Desa Candi Renggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, mempunyai program kerja budidaya ikan Nila sebagai pengembangan ekonomi masyarakat pesisir yang sampai saat ini masih terus berjalan.

Fasilitator Masyarakat Timja DMPM Candi Sejahtera, Sugeng Purwadi mengatakan sejak menerima bantuan melalui program ini pada Oktober 2025 lalu, dia bersama 15 anggota Timja lainnya mengaplikasikan bantuan tersebut dengan membuat enam kolam budidaya ikan Nila sebagai program utama. Di tiap kolam, ditabur sekitar 1.000 bibit ikan Nila.

”Dalam tiga bulan, kami sudah panen pertama di akhir Desember 2025. Panennya tidak sekaligus, baru panen tiga kolam masing-masing kolam sekitar 150 kilogram. Dari panen itu, kami bisa beli bibit lagi,” ujarnya.

Menurut Sugeng, hasil penjualan ikan dari budidaya itu memang masih belum terlalu besar, sebab masih ada ikan yang mati. Selain itu, proses penjualannya pun dilakukan mandiri oleh anggota tim kerja tanpa menjual ke pengepul ikan. Namun yang penting, dari hasil penjualan tiga kali panen ikan itu, mereka bisa kembali membeli bibit ikan untuk ditaburkan lagi di enam kolam yang sudah ada.

Sugeng berharap masih ada bantuan dan dukungan dari pemerintah pusat atau pun pemerintah daerah, terkait peningkatan kapasitas anggota timja dalam mengelola kolam ikan tersebut. “Jika ada pelatihan khusus dari Dinas Perikanan, kami sangat butuh. Atau ada bantuan bibit dan pakan ikan, kami juga memerlukannya,” kata dia.