Wujudkan Lansia Cirebon Bebas Stroke, Fisioterapi UI Gandeng Puskesmas dan Tokoh Masyarakat

AKM • Tuesday, 19 Aug 2025 - 21:45 WIB
Fisioterapi Universitas Indonesia mengadakan Program Pengabdian Masyarakat (PPM) Sosialisasi dan Deteksi Dini Stroke pada Lansia di Kota Cirebon (Istimewa)

Jakarta -.Stroke mengancam satu dari empat orang di dunia sepanjang hidupnya. Secara global, setiap tahunnya tercatat 12 juta kasus baru dan 7 juta kasus kematian akibat stroke. Di Indonesia, kelompok lansia menjadi yang paling rentan, terutama usia di atas 75 tahun dengan prevalensi 41,3% (Survei Kesehatan Indonesia 2023). 

Hal ini dapat terjadi karena keterlambatan penanganan stroke yang disebabkan rendahnya pemahaman dan pengenalan gejala awal stroke. Dibutuhkan upaya preventif berupa edukasi dan deteksi dini, langkah ini menjadi krusial agar kelompok rentan dapat mengenali gejala awal stroke sekaligus dapat menghindari faktor risiko stroke. 

Tim pengabdi yang berasal dari Program Studi Fisioterapi Universitas Indonesia menyadari pentingnya deteksi dini stroke untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan turut andil dalam menurunkan angka stroke yang masih menjadi tantangan nasional. 

Tim Pengabdi yang terdiri dari dosen dan mahasiswa bekerja sama dengan perangkat RW, dan Puskesmas Gunung Sari, mengadakan Program Pengabdian Masyarakat (PPM) Sosialisasi dan Deteksi Dini Stroke pada Lansia yang berfokus lansia  di Kota Cirebon, Jawa Barat,  (4/8).

Ketua Tim pengabdi, Riza Pahlawi, S.Tr. Ftr., M. Kes  mengatakan pihaknya melakukam  sosialisasi pencegahan dan pengenalan gejala awal stroke untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar tentang pentingnya deteksi dini stroke. 

“Tidak hanya memberikan edukasi, tim pengabdi juga melakukan penilaian faktor risiko stroke melalui pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, gula, asam urat dan IMT secara gratis,” ujar Riza dalam keterangan tertulis kepada Media.

Riza Pahlawi menegaskan bahwa kegiatan ini juga bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat untuk mengenali kondisi kesehatan mereka yang menjadi faktor risiko stroke.

“Penilaian risiko stroke menggunakan metode screening SRSC (Stroke Risk Score Card) untuk membantu masyarakat mengkategorikan risiko stroke sesuai kondisi individu dan hasil pemeriksaan sehingga dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat sesuai risiko masing-masing.” Imbuhnya.

Dapatkan Apresiasi

Sementara itu, Ketua Bapermas RW 06 mengapresiasi sebesar besarnya atas inisiatif ini. Kedatangan tim dari UI menyadarkan bahwa penyakit stroke datang dari kebiasaan sehari-hari, misalnya berlebihan makan gorengan dan makanan bersantan serta kurang memperhatikan pola hidup sehat.

“ Saya rasa inisiasi ini perlu kembali digalakkan pada lingkup masyarakat mengingat bahaya stroke pada kesehatan. ” ungkap Dikdik.

Menurut Dikdik, program  ini menjalin kolaborasi dengan pihak puskesmas untuk memperkuat langkah pencegahan khususnya penyakit stroke.

“ Bentuk kolaborasi ini dapat memberikan akses bagi masyarakat khususnya mereka yang memiliki risiko stroke, misalnya tindak lanjut secara medis dan dilakukan secara intensif berdasarkan data yang ditemukan di lapangan.” ungkap Dikdik.

Melalui program pengabdian masyarakat, tim pengabdi berharap dapat terus berkontribusi meningkatkan pencegahan kesehatan yang menjadi salah satu poin strategis dalam tujuan nasional yang dirumuskan oleh Kementerian Kesehatan. Tim pengabdi juga memiliki komitmen untuk mewujudkan salah satu poin (Sustainable Development Goals) SDGs yaitu Good Health and Well Being.