
Jakarta - Ahli Pengembangan Bisnis Perindustrian, B.A. up Hadisantoso, punya resep jitu agar kawasan industri Indonesia bisa jadi magnet investasi kelas dunia. Hadisantoso menegaskan bahwa branding kawasan industri sekarang nggak cukup cuma modal lahan luas dan harga murah.
“Investor hari ini membeli lebih dari sekadar lokasi. Mereka membeli purpose ingin tahu siapa tetangganya, apa dampak lingkungannya, dan arah pengembangannya dalam 10 tahun ke depan,” ujar Hadisantoso, dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jum’at (15/8).
Hadisantoso yang pernah berkiprah di mancanegara; Citibank NA, Oracle NA, OCBC Wealth Management, hingga mengembangkan pasar Indonesia menjelaskan kawasan industri Jababeka Cikarang yang dalam 35 tahun membangun 5.400 hektare dengan GDP per kapita mencapai USD 35.000, jauh di atas rata-rata Indonesia yang masih USD 5.000. Kawasan itu menopang populasi 1,2 juta orang.
Hadisantoso berandai-andai, kalau ada ‘invisible hands” yang dapat mempersatukan kawasan industri di Pertiwi sehingga dapat terjadi 100 kawasan industri berskala Jababeka Cikarang dalam waktu singkat. Mungkin berdampak ekonomi sangat signifikan; misal bisa mengangkat 120 juta penduduk dengan GDP per kapita mendekati USD 50.000 setara negara maju. A silver bullet; menyeimbangi mimpi terwujudnya dampak dari SWF Indonesia – Danantara.
Menurutnya, pengembangan benang merah di kawasan industri harus memperhatikan detail infrastruktur seperti jalan, listrik, pengelolaan limbah, hingga keamanan.
“Selain itu, literasi digital juga penting misalnya penggunaan estate apps dan layanan terintegrasi yang mampu membantu kawasan bertahan melewati masa pengenalan antara kawasan dan tenant,” imbuhnya.
Ia juga menyoroti pentingnya single source of data untuk mengkonsolidasikan informasi dan memanfaatkan data mining demi upsell services di dalam kawasan tersebut.
Hadisantoso memaparkan lima strategi branding yang bisa diterapkan, termasuk di kawasan industry yang butuh rekapitalisasi:
1. Membangun Narasi Besar – Kawasan industri sebagai katalis pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial.
2. Memperkuat Posisi Eko sistem – Merangkul semua elemen, dari investor, pekerja, UMKM, hingga komunitas lokal.
3. Digitalisasi Pemasaran & Engagement – Menghadirkan virtual tour, perizinan real-time, dan interaksi berbasis data.
4. Kawasan Hijau Berstandar Global – Menjadikan ESG sebagai pedoman utama.
5. Brand Ambassador Lokal – SDM lokal yang menyuarakan kesuksesan kawasan.
Secara spesifik, mesti ada lokalisasi untuk menyeimbangi antara “Global Mindset & Local Wisdom”. Jika mendapatkan perumpamaan kepada kawasan mumpuni di Indonesia; ia melihat ada rekapitalisasi untuk semacam – PIER Pasuruan cocok diarahkan jadi pusat logistik halal dan hub agrikultur masa depan.
Sementara rekapitalisasi untuk SIER Rungkut di Surabaya punya potensi sebagai smart industrial estate urban yang ramah lingkungan dengan smart city model untuk menuju ke Industry 4.0 dan Society 5.0.
“Investor global akan datang kalau kita punya brand yang kuat. Tapi kawasan industri akan hidup kalau masyarakat sekitarnya juga tumbuh. Kita harus bangun kawasan yang berdampak,” pungkas Hadisantoso.