
Jakarta – Wakil Menteri Kebudayaan Indonesia, Giring Ganesha, menerima kunjungan Direktur Jenderal World Intellectual Property Organization (WIPO), Daren Tang beserta jajaran, dalam sebuah jamuan makan siang yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin (11/9).
Pertemuan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Direktur Jenderal WIPO ke Indonesia, yang diagendakan akan bertemu dengan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Momentum ini menjadi tonggak penting dalam mempererat kolaborasi antara Indonesia dan WIPO di bidang perlindungan serta pengelolaan kekayaan intelektual budaya.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak mendiskusikan berbagai upaya dan potensi kerja sama untuk memperkuat upaya pelindungan Kekayaan Intelektual (KI), khususnya di bidang kebudayaan. Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, menyoroti kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa yang dimiliki oleh Indonesian dengan memiliki 2.213 warisan budaya.
“Indonesia memiliki lebih dari 1.300 kelompok etnis, lebih dari 17.000 pulau, dan lebih dari 700 bahasa. Saat ini, kita memiliki 2.213 Warisan Budaya Takbenda yang telah tercatat di tingkat nasional, dan jumlah ini akan terus bertambah,” ujar Wamenbud Giring.
Ia menambahkan bahwa keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia adalah kekuatan sekaligus tantangan, terutama dalam konteks kekayaan intelektual. Tantangan tersebut mencakup isu royalti atas ekspresi budaya tradisional, seperti batik, musik, dan tari; pemanfaatan objek budaya untuk tujuan komersial, terutama oleh industri besar dan pihak asing; hingga pengelolaan koleksi museum dan situs warisan budaya.
“Untuk pertama kalinya, Indonesia memiliki kementerian yang secara khusus menangani kebudayaan. Presiden Prabowo mengingatkan bahwa budaya harus menjadi wajah bangsa. Maka, kami yakin bahwa inilah waktu yang tepat untuk mengatasi berbagai tantangan terkait kekayaan intelektual budaya,” ungkap Wamenbud Giring.
Pada kesempatan ini, Wamenbud Giring menekankan pentingnya kerja sama dengan WIPO dalam tiga bidang strategis. Pertama, Wamenbud menyoroti perlunya strategi pendaftaran dan perlindungan kekayaan intelektual komunal di tingkat internasional agar warisan budaya tak hanya dikenal luas, tetapi juga terlindungi secara hukum.
“Kedua, dirinya menekankan pentingnya penyusunan kebijakan yang mampu mendorong komersialisasi warisan budaya tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisional di dalamnya. Ketiga, urgensi peningkatan kapasitas nasional dalam hak cipta, merek dagang, dan bidang kekayaan intelektual lainnya,” tambahnya.
Wamenbud Giring menjelaskan kerja sama ini diyakini akan memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi budaya global.
“ Dan perlindungan kekayaan budaya nasional, dan pemanfaatan kembali oleh masyarakat, pemilik sah kekayaan budaya tersebut,” sebutnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal WIPO, DarenTang, menyampaikan rasa hormat dan kebahagiaannya dapat berkunjung ke Indonesia untuk pertama kalinya dalam kapasitasnya sebagai pimpinan WIPO. Sebagai warga Singapura sekaligus Direktur Jenderal WIPO pertama yang berasal dari kawasan ASEAN, Daren menyoroti besarnya pengaruh budaya Indonesia, termasuk dalam kehidupannya pribadi.
Ia mengenang berbagai elemen budaya yang tumbuh bersamanya, seperti lagu legendaris “Bengawan Solo”, musik gamelan, hingga kuliner khas Indonesia. Hal tersebut menurutnya menjadi bukti kuatnya jejak budaya Indonesia dalam identitas regional Asia Tenggara. Menurutnya, aspirasi Indonesia untuk menjadi kekuatan budaya dunia sangat layak didukung sepenuhnya.
Daren menekankan pentingnya kekayaan intelektual sebagai alat bagi para seniman dan kreator, tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia, untuk mengekspresikan diri, membangun karya berbasis budaya dan teknologi, serta menjangkau pasar global.
“Namun, para kreator dan seniman membutuhkan pelatihan, akses terhadap teknologi, dukungan, dan kepercayaan diri, bahwa kesuksesan sebagai seniman tidak hanya bisa dicapai di pusat-pusat industri global, seperti Hollywood, tetapi juga di Indonesia, Asia Tenggara, dan wilayah selatan dunia yang sedang berkembang,” tambahnya.
Sebagai penutup, Daren Tang menyatakan komitmen penuh WIPO untuk mendukung para kreator dari negara-negara berkembang agar dapat mengangkat budaya mereka melalui kekayaan intelektual dan teknologi.
Ia juga mengucapkan selamat atas pembentukan Kementerian Kebudayaan, menyampaikan apresiasi terhadap visi Presiden Prabowo, serta menyatakan kesiapan WIPO untuk menjadi mitra dalam perjalanan pembangunan Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045.
"WIPO akan senantiasa mendampingi dan mendukung Indonesia dalam mewujudkan cita-cita besarnya," ujarnya.
Sebagai bagian dari rangkaian kunjungan, Daren Tang dijadwalkan hadir dalam pembukaan IP Expose 2025 pada 13 Agustus 2025 di Gedung SMESCO. IP Expose merupakan agenda tahunan yang digelar oleh Kementerian Hukum dan HAM untuk merayakan serta mendukung inovasi, kreativitas, dan pelindungan kekayaan intelektual di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Kebudayaan turut berpartisipasi dengan menampilkan booth bertema
"Warisan Budaya: Inspirasi Produk Kekayaan Intelektual", yang mengangkat budaya tradisional sebagai sumber inovasi yang bernilai dan dilindungi secara hukum," tamdasnya.
Direktur Jenderal WIPO, Daren Tang, hadir bersama jajarannya. Sementara itu, turut hadir dalam pertemuan ini, di antaranya Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan; Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Yayuk Sri Budi Rahayu; Direktur Eksekutif Museum dan Cagar Budaya, Indira Esti Nurjadin; serta Kepala Museum dan Cagar Budaya, Abi Kusno.