Wamenag Dorong Transformasi Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Umat

FAZ • Tuesday, 8 Jul 2025 - 16:54 WIB

JAKARTA — Wakil Menteri Agama Romo R Muhammad Syafi’i membuka Sarasehan Kemasjidan dan Lokakarya Nasional Badan Kesejahteraan Masjid (Saraloka BKM) dalam rangkaian Peaceful Muharam di Jakarta, Senin (7/7/2025). Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa masjid harus bertransformasi menjadi pusat pembinaan umat secara holistik, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Wamenag mencontohkan Madinah sebagai model ideal integrasi nilai ketuhanan dan keberagaman. Ia mendorong pengelola masjid agar menjawab kebutuhan konkret umat, seperti menyediakan klinik, perpustakaan, layanan zakat, hingga beasiswa pendidikan. Menurutnya, fungsi masjid tidak boleh direduksi hanya sebagai tempat ibadah tanpa program nyata yang memberdayakan umat, terutama generasi muda.

Lebih lanjut, ia mengajak agar dana zakat, infak, dan wakaf dikelola secara produktif dan akuntabel, seperti model wakaf Al-Azhar di Mesir yang mampu menopang kebutuhan negara. Ia juga mendorong adanya kebijakan lintas sektor agar pemerintah daerah bisa memberikan dukungan riil terhadap masjid dan kegiatan keagamaan lintas agama secara adil.

Sebagai akademisi, Romo Syafi’i tengah menyusun buku strategi peran sosial masjid berbasis wakaf dan zakat. Ia menyatakan bahwa NKRI juga tumbuh dari kontribusi masjid, mulai dari resolusi jihad hingga pembinaan pemuda. “Jangan sampai masjid hidup dalam nostalgia, tapi mati dalam kontribusi,” ujarnya tegas.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menambahkan bahwa Saraloka BKM berlangsung 7–9 Juli 2025 dan diikuti 300 peserta dari pusat, provinsi, hingga mitra strategis. Ia menekankan pentingnya sinergi multipihak melalui pendekatan pentahelix (pemerintah, ormas, akademisi, usaha, dan media) untuk menjawab berbagai persoalan umat.

Menurut Arsad, terdapat 695.244 masjid dan musala yang telah terdaftar di aplikasi Sistem Informasi Masjid (SIMAS) serta 28.138 lembaga BKM yang menjadi potensi besar pembangunan komunitas. Ia menegaskan bahwa hasil Saraloka harus diwujudkan dalam panduan program konkret sepanjang 2025 agar masjid benar-benar menjadi simpul pembinaan sosial, budaya, dan keluarga.