BPIP dan Unsri Gelar Seminar Kebangsaan: Pancasila Sebagai Jawaban Tantangan Global dan Geo-Politik

FAZ • Sunday, 15 Jun 2025 - 19:17 WIB

JAKARTA — Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sriwijaya (Unsri) menyelenggarakan seminar kebangsaan bertema “Pancasila untuk Dunia, Menjawab Tantangan Global dan Geo-Politik”, acara ini digelar di Gedung Pascasarjana Unsri, Bukit Besar, Palembang, Kamis (12/6).

Seminar dibuka secara resmi oleh Direktur Sosialisasi dan Komunikasi BPIP, Prof. Dr. Agus Najib, dan Dekan FISIP Unsri, Prof. Dr. Alfitri. Kegiatan ini menghadirkan narasumber-narasumber berkompeten seperti Dr. Darmansjah Djumala (Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri), Dr. Zulfikri Suleman (Dosen FISIP Unsri), dan Mohammad Fauzi (Staf Kesbangpol Pemprov Sumsel).

Kegiatan yang diikuti lebih dari 600 peserta ini dihadiri oleh civitas akademika Unsri, mahasiswa, alumni Paskibraka, serta para peminat kajian hubungan internasional, baik secara luring maupun daring.

Dalam paparannya berjudul “Pancasila, Dari Indonesia Untuk Dunia: Diplomasi Indonesia dalam Dinamika Politik Nasional dan Global”, Dr. Djumala menjelaskan bahwa Pancasila telah teruji oleh berbagai tantangan, baik di tingkat nasional maupun global.

Djunala menyoroti bagaimana Pancasila mampu menjaga keutuhan Indonesia di tengah ancaman ideologi kiri dan kanan pada masa awal kemerdekaan, serta menghadapi dinamika global seperti Perang Dingin, runtuhnya Tembok Berlin, hingga tragedi 11 September 2001 dan Arab Spring 2011.

“Pancasila adalah kekuatan yang membuat Indonesia tetap utuh sebagai negara bangsa, saat banyak negara lain mengalami disintegrasi akibat konflik ideologi, etnik, dan agama,” ujar Dr Djumala dalam keterangannya  di Jakarta, Minggu (15/6/2025).

Lebih lanjut, Dr. Djumala mengungkapkan bahwa pada Mei 2023, PBB melalui UNESCO telah mengakui pidato Presiden Soekarno mengenai Pancasila di PBB tahun 1960 sebagai Memory of the World. Pengakuan ini, katanya, merupakan bukti nilai-nilai universal dalam Pancasila yang menjadikannya relevan sebagai ideologi perdamaian di tengah krisis global.

“Pengakuan ini menjadi modal penting dalam diplomasi Indonesia di tingkat global. Naskah pidato Bung Karno kini terbuka bagi dunia akademik internasional untuk mempelajari Pancasila sebagai disiplin filsafat dan politik yang mampu menjembatani konflik sosial budaya,” tutup Dr. Djumala.