PLBN Badau dan Komunitas Seni Hadirkan Literasi Visual untuk Masyarakat Perbatasan

ANP • Wednesday, 28 May 2025 - 06:50 WIB

Kapuas Hulu – Di tengah perbatasan Indonesia-Malaysia, film menjadi lebih dari sekadar hiburan. Ia menjelma menjadi jembatan edukasi menghubungkan gagasan, kesadaran, dan harapan bagi masyarakat yang hidup dalam dinamika batas negara. Inilah yang melatarbelakangi gelaran Sinema Gerak Perbatasan Kecamatan Badau, sebuah inisiatif yang mempertemukan PLBN Badau dengan komunitas seni Putussibau Art Community dalam menghadirkan literasi visual bagi masyarakat.

Kegiatan ini menghadirkan dua agenda utama: pemutaran film Through The Screen, yang mengangkat isu perdagangan manusia, serta diskusi publik yang dipandu oleh Ikhsan Danandewa dari pihak Imigrasi dan Seto Nurdiantoro dari PLBN Badau. Tak sekadar menonton, para pelajar SMA dan SMK di Kecamatan Badau ikut berdiskusi, mengaitkan narasi film dengan realitas yang mereka hadapi.

Seto mengungkapkan bahwa film dapat menjadi alat edukatif yang efektif, khususnya bagi masyarakat perbatasan.

"Pendekatan visual membuat pesan lebih mudah diterima. Kami ingin membuka ruang bagi masyarakat agar lebih peka terhadap isu-isu sosial yang ada di sekitar mereka," ujarnya.

Suasana semakin terasa ketika film Kabud Berduri diputar. Film ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga refleksi tentang kehidupan komunitas Dayak yang hidup berdampingan dengan batas negara. Lebih dari sekadar layar, cerita dalam film menjadi cermin yang menggambarkan keseharian dan tantangan di kawasan perbatasan.

Sebagai salah satu pintu lintas batas negara, PLBN Badau bukan hanya berfungsi sebagai jalur perdagangan dan perjalanan internasional. Kepala PLBN Badau, Wendelinus Fanu, menegaskan bahwa tempat ini juga harus menjadi ruang bagi pertumbuhan budaya dan solidaritas sosial.

"PLBN Badau bukan hanya pintu gerbang lintas negara, tetapi juga tempat bertemunya gagasan dan pendidikan bagi masyarakat sekitar," katanya. 

Wendelinus berharap sinema edukatif ini bisa menjadi bagian dari program jangka panjang dalam membangun kesadaran sosial di wilayah perbatasan.

Dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Kebudayaan RI, Dana Indonesia, dan LPDP, yang melihat kegiatan ini sebagai langkah penting dalam meningkatkan literasi visual dan kepedulian masyarakat terhadap isu sosial.

Sinema perbatasan di PLBN Badau bukan sekadar menayangkan film, tetapi membuka ruang dialog dan perspektif baru. Bagi masyarakat perbatasan, kegiatan ini menjadi simbol bahwa pendidikan dan kebudayaan dapat berkembang di mana saja, termasuk di garis batas negara.

Saat layar mulai redup dan suasana kembali seperti semula, satu hal menjadi jelas: film memiliki kekuatan untuk menyatukan, mengedukasi, dan memberi harapan bagi mereka yang hidup di perbatasan.