Menteri LH Minta Pemprov DKI Operasikan RDF Rorotan Bulan Depan

FAZ • Monday, 19 May 2025 - 18:29 WIB

JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera segera bisa beroperasi Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan di Jakarta Utara untuk menangani isu sampah di wilayah Jakarta. 

“Harapan saya segera ya dioperasionalkan (RDF) Rorotan. Tidak boleh menunggu September. Saya sudah, aduh, ini kok kenapa berhenti lagi? Kemarin udah jalan. Jadi, saya sangat ingin dalam waktu segera, mudah-mudahan bulan Juni (beroperasi)," kata Hanif saat mengunjungi RDF Rorotan, Jakarta Utara, Senin (19/5/2025).

Dalam kunjungan ke RDF Rorotan, Jakarta Utara, Menteri Hanif mendengarkan penjelasan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto yang mengatakan pihaknya menargetkan fasilitas tersebut akan mulai beroperasi secara penuh pada September 2025. Namun, Hanif meminta agar target tersebut dipercepat menjadi paling lambat Juni 2025.

“Kemudian saya ingin disampaikan kepada yang terhormat Bapak Gubernur (DKI Jakarta) untuk mengoperasikan secepat-cepatnya," ujar Hanif. 

Dia meminta agar RDF Rorotan dapat mulai beroperasi paling lambat Juni, untuk membantu menyelesaikan 2.500 ton sampah yang dihasilkan di Jakarta Utara saja. Semakin lambat pengoperasiannya dia menyebut bahwa jumlah timbulan sampah yang dikirim ke TPST Bantergebang akan semakin banyak.

"Ini kalau setiap hari seperti ini, 2.500 ton kita kirim ke Bantar Gebang, kemarin sudah runtuh, runtuh lagi, runtuh lagi, bencananya luar biasa. Ini pembelajaran buat kita untuk RDF Rorotan ini. Ke depan, maka semua teknologi tidak boleh uji coba. Tidak ada yang boleh improvement-improvement lagi. Harus sudah proven. Tidak boleh main-main dengan lingkungan sehingga saya minta harapan Menteri, ini segera, jangan lagi nunggu September," ucap Hanif.

Selain itu, Hanif juga menyoroti keluhan masyarakat terkait bau yang ditimbulkan dari RDF Rorotan. Ia menilai hal ini disebabkan karena masih bercampurnya sampah organik dan anorganik. Karena itu, ia menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak awal.

“Ini dari teknologi yang digunakan. Kita tidak ingin lagi ke depan melihat teknologi yang trial and error. Harus proven. Nggak lagi ada improvement ini, improvement itu. Itu berarti teknologinya nggak proven,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hanif mengingatkan agar penggunaan teknologi dalam pengolahan sampah benar-benar tepat guna dan aman, tidak hanya dalam aspek bau, tetapi juga dari sisi emisi polutan berbahaya seperti dioksin furan.

“Udah duitnya mahal, teknologinya masih uji coba lagi. Kita menghadapi masalah besar di Jakarta, nggak boleh main-main dengan teknologi,” tegas Hanif.