
JAKARTA – Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai keputusan Pemerintah Indonesia mengirim delegasi ke Amerika Serikat untuk melakukan negosiasi terkait kebijakan tarif timbal balik (reciprocal tarif) sebesar 32 persen terhadap Indonesia merupakan langkah yang tepat.
Menurut AHY, kebijakan tersebut merupakan bentuk diplomasi reaktif dalam merespons kebijakan proteksionis yang diberlakukan Presiden AS, Donald Trump.
“Dalam kondisi perang dagang seperti ini, Indonesia harus bekerja keras untuk mempertahankan kedaulatannya dan terus memperjuangkan masa depan yang gemilang,” ujar AHY dalam Panel Discussion The Yudhoyono Institute di Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Minggu (13/4/2025).
Selain itu, AHY menyampaikan apresiasinya kepada Presiden Prabowo Subianto yang dinilai telah menjalankan strategi diplomasi ganda dalam merespons situasi global saat ini.
“Kita mengapresiasi langkah Bapak Presiden Prabowo Subianto yang telah menjalankan dual track diplomasi. Pertama, dengan mengirim tim negosiasi ke Washington DC. Kedua, membangun komunikasi dengan para pemimpin Asia dan dunia lainnya. Inilah wajah diplomasi strategis yang adaptif dan tangguh,” kata AHY.
Lebih lanjut, AHY mengungkapkan sejumlah pandangan strategis dari TYI bagi Pemerintah Indonesia dalam merespons memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Ia menyebut ada empat langkah utama yang perlu diperhatikan.
Pertama, kata AHY, adalah memperkuat struktur ekonomi domestik. Ia menekankan pentingnya menjaga pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan global.
“Ketika ekspor kita menghadapi tekanan serius, kita harus menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas harga. Selain itu, mendatangkan investasi untuk melanjutkan pembangunan dan membuka lapangan kerja juga sangat krusial,” jelasnya.
Kedua, AHY menilai Pemerintah perlu mampu melihat peluang di tengah krisis dengan mendorong transformasi ekonomi, percepatan hilirisasi, dan digitalisasi.
“Kita juga butuh segera mendorong ekonomi hijau, termasuk transisi ke energi terbarukan,” tambahnya.
Ketiga, AHY menyebut pentingnya diversifikasi pasar dan mitra strategis. Ia menekankan perlunya Indonesia memperluas jangkauan perdagangan ke kawasan potensial seperti Eropa, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara Global South lainnya.
“Bersama mitra strategis, Indonesia harus memperkuat sistem perdagangan dan kerja sama multilateral yang tidak diskriminatif dan saling menguntungkan,” ujar dia.
Sementara itu, AHY menekankan pentingnya memperkuat solidaritas di antara negara-negara ASEAN agar kawasan tidak terpecah oleh kepentingan masing-masing negara.
“ASEAN harus bersuara satu, membela prinsip perdagangan yang adil dan terbuka,” pungkasnya.