
JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq menyebut 95% orang Indonesia terpapar limbah mikroplastik. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan sampah plastik yang tidak ramah lingkungan melalui sistem open dumping.
"Berdasarkan kajian dari Bank Dunia, 95 persen dari penduduk Indonesia yang dijadikan sampel menunjukkan adanya mikroplastik di dalam tubuh mereka, tidak terkecuali kita," ujar Hanif dalam konferensi pers di Kantor KLH, Jakarta timur, Senin (10/3/25).
Hanif menjelaskan bahwa mikroplastik terbentuk dari sampah plastik yang terurai akibat perubahan iklim dan kondisi cuaca ekstrem. Partikel mikroplastik ini bahkan dapat menyebar hingga radius 2-3 kilometer dari lokasi pembuangan sampah terbuka.
"Tumpukan sampah yang tidak terkelola dengan baik akan terurai menjadi mikroplastik. Partikel ini bisa terbang ke mana saja dan mencemari lingkungan, termasuk perairan tempat ikan hidup," ungkap Hanif.
Ia menambahkan, ikan yang hidup di perairan yang terkontaminasi mikroplastik—baik di air tawar maupun laut—dapat membawa partikel berbahaya ini ke dalam rantai makanan manusia.
"Kita mungkin tidak sadar bahwa ikan yang kita konsumsi telah terpapar mikroplastik," tambahnya.
Sementara itu, Hanif menekankan pentingnya menghentikan praktik open dumping demi menjaga kesehatan masyarakat dan lingkungan.
"Sudah saatnya kita lebih cermat dalam menangani limbah plastik. Praktik-praktik pembuangan sampah terbuka yang tidak ramah lingkungan harus segera dihentikan," pungkasnya.