Libatkan Perguruan Tinggi dan Masyarakat, Kemdiktisaintek Rancang Riset dukung Program MBG

AKM • Tuesday, 11 Feb 2025 - 16:30 WIB
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek RI Fauzan Adziman (Tengah$ Bersama Jajarannya jelaskan berbagai program kepada Media- Istimewa.

Jakarta - Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi program prioritas yang diusung Presiden Prabowo Subianto. Banyak hal yang dinilai perlu penyempurnaan program MBG mulai dari baham pangan, pengelolaan hingga distribusi.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI merancang riset terkait hal-hal pendukung dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek RI Fauzan Adziman mengatakan sejumlah hal pendukung Program MBG seperti bahan pangan juga alat-alat penyimpanan dan pengolahan makanan menjadi sejumlah hal yang disoroti dalam program riset ini.

"Biasanya alat-alat ini kita suplai dari luar negeri. Nah ini komponen-komponen untuk mesin-mesin atau juga alat-alat di dapur ini mulai kita identifikasi," katanya dalam acara Ngopi Bareng bersama Media, Jakarta, Selasa (11/2).

Fauzan menyebutkan program riset ini nantinya tidak hanya dilakukan di perguruan tinggi reguler, namun juga perguruan tinggi vokasi hingga masyarakat desa dalam rangka penguatan UMKM dan upaya industrialisasi desa.  

"Jadi UMKM kita tingkatkan nilai tambahnya supaya nanti bisa menghasilkan alat-alat yang sesuai dengan standar yang dibutuhkan," ujarnya.

Dalam hal logistik bahan pangan yang diperlukan dalam MBG, Fauzan memaparkan pihaknya juga mengembangkan sistem pertanian klaster, yang diterapkan dengan menyesuaikan kebutuhan dari suatu wilayah.

Fauzan menjlaskan.dalam implementasinya, pihaknya mengarahkan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dalam melakukan pendampingan terhadap masyarakat.

"Jadi, fungsi dari kampus adalah meningkatkan pendampingan dengan baik itu pertanian dan juga perkebunan. Sehingga solusi yang dibuat secara lokal itu bisa mengatasi masalah-masalah atau distribusi di desa-desa tersebut," paparnya.

Fauzan menyebutkan salah satu yang menjadi pembahasan adalah penyediaan susu kemasan, yang dinilai menjadi salah satu bagian termahal pada satu porsi MBG.

"Kita lagi mencari jalan supaya di setiap desa ada yang bisa memproses susu dengan alat-alat yang kita kembangkan di desa itu," lanjutnya.

Efisiensi Anggaran, Program Riset Tetap Berjalan

Fauzan memastikan program dan kegiatan riset tetap berjalan meskipun terdampak efisiensi anggaran pemerintah.

"Walaupun ada efisiensi, tidak serta-merta kita mengurangi kemampuan riset kita," kata Fauzan.

Fauzan mengungkapkan pihaknya mengalokasikan anggaran riset berbasis kepentingan. Sehingga, pemerintah tetap bisa memberikan anggaran untuk melakukan riset yang menjadi prioritas, salah satunya adalah riset swasembada pangan yang menjadi Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto.

"Mulai ketahanan pangan, terus ada transportasi, ada kesehatan, ada maritim, ada ekonomi hijau, ekonomi biru, dan sebagainya. Nah, kalau mulai dari tahun ini kita tidak hanya dari bidang-bidang itu saja, tapi juga Asta Cita dan masalah-masalah yang kita pecahkan," paparnya.

Adapun riset yang berkenaan dengan program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), lanjut Fauzan, dana yang digunakan juga bisa bersumber dari anggaran program tersebut.

"Misalkan saja, tadi program MBG, karena kan riset ini bisa kita arahkan untuk membantu program MBG. Jadi, kalaupun dana risetnya diperkecil, tapi kita bisa menggunakan dana yang untuk MBG, untuk riset di bidang MBG, sehingga kita bisa geser," ungkapnya.

Fauzan memaparkan beberapa program riset juga bisa didanai dengan melakukan penggeseran sejumlah dana pendidikan, di antaranya seperti penggeseran dana LPDP, serta pelibatan sektor swasta dalam rangka riset untuk hilirisasi dan pemajuan industri dalam negeri.

"Jadi, hilirisasi ini tidak bisa hanya dengan jual-beli. Kita ingin lebih banyak lagi mengurangi impor dan mensubsidisi impor menggunakan produk-produk yang kita kembangkan di dalam negeri. Ini kita memerlukan dana riset dan pengembangan yang sebaiknya bisa berkembang," tandasnya.