Amerika Serikat dan Indonesia Majukan Konservasi Orangutan di Indonesia

ITK • Tuesday, 10 Dec 2024 - 16:56 WIB
(Kiri ke Kanan) Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc., Direktur USAID Indonesia Jeff Cohen, dan Prof. Jatna Supriatna, Ph.D.

Jakarta - Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) dan Kementerian Kehutanan Indonesia menyelenggarakan "Simposium Orangutan: Mendorong Upaya Konservasi Orangutan di Indonesia" di Jakarta untuk memperkuat upaya kolaboratif dalam melindungi spesies orangutan dan habitatnya. Acara ini menghadirkan para pemangku kepentingan dari sektor publik dan swasta, akademisi, dan organisasi yang bergerak di bidang konservasi keanekaragaman hayati untuk memajukan strategi konservasi orangutan.

“Amerika Serikat berkomitmen untuk melindungi spesies orangutan ikonik Indonesia melalui kemitraan yang kuat,” kata Jeff Cohen, Direktur Misi USAID Indonesia. “Kami mendorong mitra sektor swasta, masyarakat sipil, dan organisasi nonpemerintah untuk bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dalam menjaga populasi orangutan dan habitatnya.”

Simposium ini merupakan langkah penting dalam komitmen USAID untuk mendukung Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030 pemerintah Indonesia, yang mencakup konservasi orangutan. Sejak 2001, Amerika Serikat telah menginvestasikan lebih dari 50 juta dolar AS melalui USAID untuk melindungi orangutan Indonesia dan habitatnya, sebagai bagian dari komitmen yang lebih luas terhadap pengelolaan sumber daya alam. Kemitraan AS dengan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk melestarikan dan melindungi hutan tropis Indonesia telah melindungi 6,5 juta hektar habitat orangutan.

Indonesia adalah rumah bagi populasi primata paling beragam di dunia, dengan 70 persen spesies primata yang terancam punah. Tiga di antaranya adalah spesies orangutan asli Indonesia: Pongo abelii (orangutan Sumatera), Pongo tapanuliensis (orangutan Tapanuli), dan Pongo pygmaeus (orangutan Kalimantan) dengan perkiraan jumlah populasi 70.000 satwa.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc., dan Direktur USAID Indonesia Jeff Cohen dalam Simposium dan Lokakarya Orangutan: Mendorong Upaya Konservasi Orangutan di Indonesia. (Sumber: USAID)

 

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, yang memiliki berbagai habitat, ekosistem, dan spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Keanekaragaman hayati yang kaya ini menghadapi ancaman yang semakin meningkat dari praktik tidak berkelanjutan dan perdagangan satwa liar ilegal.

"Pendekatan kolaboratif sangat penting dalam melindungi keanekaragaman hayati Indonesia, yang juga akan berkontribusi pada pengurangan perdagangan satwa liar," kata Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem di Kementerian Kehutanan. "Kami berharap melalui simposium ini, kita dapat mengidentifikasi insentif inovatif untuk mendorong dan mengimplementasikan strategi konkret untuk melindungi orangutan dan spesies dilindungi lainnya."

Keberhasilan konservasi orangutan di Indonesia membutuhkan kolaborasi aktif antara bisnis swasta, pemerintah daerah, dan masyarakat – terutama yang berlokasi di dekat kawasan hutan.

USAID, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, dan perwakilan dari Otorita Ibu Kota Nusantara, Badan Riset dan Inovasi Nasional, LSM, Universitas, Sektor Swasta, serta peneliti/pelestari Orangutan dalam Simposium dan Lokakarya Orangutan: Mendorong Upaya Konservasi Orangutan di Indonesia. (Sumber: USAID)

 

Prof. Jatna Supriatna, Profesor Biologi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, dan pakar satwa liar serta ahli biologi konservasi terkemuka, menekankan pentingnya kolaborasi akar rumput untuk melindungi habitat orangutan melalui pengembangan ekowisata sebagai contoh insentif inovatif. "Pengembangan pariwisata berkelanjutan oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan tidak hanya akan berkontribusi pada perlindungan habitat orangutan tetapi juga memberikan nilai tambah sosial dan ekonomi bagi masyarakat," kata Prof. Jatna Supriatna.

Melalui USAID, Amerika Serikat terus bermitra dengan Indonesia dalam konservasi orangutan. USAID saat ini mendukung berbagai inisiatif konservasi, termasuk pengelolaan koridor orangutan, survei populasi dan habitat, pelestarian dan pemulihan habitat, serta mobilisasi investasi sektor swasta. (*ITK/R)