
JAKARTA - Indonesia Re menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan industri perasuransian nasional dengan meluncurkan program iLearn melalui Indonesia Re Institute. Program ini dirancang sebagai inisiatif untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) serta memperkuat ekosistem industri perasuransian di Indonesia.
Direktur Utama Indonesia Re, Benny Waworuntu, dalam acara "Launching iLearn Program – Indonesia Re Institute Learning dan Small Talk" di Hotel DoubleTree, Jakarta, menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah nyata perusahaan untuk menjadi katalisator industri yang berbasis data dan riset.
"Kita harus punya cara pandang yang sama dalam melihat risiko. Melalui Indonesia Re Institute, kami berupaya membangun budaya pembelajaran berkelanjutan," ujarnya.
Dalam Roadmap Perasuransian Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), industri reasuransi Indonesia mencatat pertumbuhan aset yang signifikan selama lima tahun terakhir, dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 12%. Pada akhir 2022, total aset industri reasuransi mencapai Rp 34 triliun, dengan nilai klaim mencapai Rp 53,94 triliun. Namun, tantangan masih dihadapi dalam aspek penetrasi, inklusi, dan literasi asuransi.
Tingkat penetrasi asuransi di Indonesia sempat mencapai 3,23% pada 2020, namun menurun menjadi 2,64% pada 2023. Inklusi asuransi juga masih rendah, dengan hanya 16,63% masyarakat yang menggunakan produk asuransi pada 2022. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan literasi dan kepercayaan masyarakat terhadap produk asuransi.
Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Jasa Asuransi dan Dana Pensiun Kementerian BUMN, Hendrika Nora Osloi Sinaga, menyampaikan apresiasinya terhadap upaya Indonesia Re.
"Kementerian BUMN sangat mendukung peningkatan kapabilitas talenta BUMN dan kolaborasi strategis untuk meningkatkan literasi dan penetrasi asuransi," ungkapnya.
Selain itu, Koordinator Keasdepan Bidang Manajemen SDM BUMN Kementerian BUMN, Herudi Kandau Nugroho, menambahkan bahwa pengembangan SDM sebagai agen perubahan diharapkan mampu mendorong ekonomi nasional.
"Budaya sharing knowledge perlu ditingkatkan, dan iLearn menjadi wadah untuk belajar dan terus bertumbuh," katanya.
Program iLearn merupakan platform pembelajaran dari Institute Learning Center Indonesia Re yang dirancang untuk mendorong transformasi industri perasuransian melalui peningkatan kapabilitas SDM.
"iLearn adalah komitmen Indonesia Re untuk menciptakan budaya belajar berkelanjutan, yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing industri perasuransian Indonesia," jelas Beatrix Santi Anugrah, Direktur Pengembangan dan Teknologi Informasi Indonesia Re.
Selain peluncuran program, acara tersebut juga mengadakan sesi diskusi "Small Talk" dengan menghadirkan tokoh-tokoh strategis dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Universitas Indonesia. Diskusi ini menyoroti pentingnya pengelolaan risiko keuangan dalam manajemen risiko bencana, termasuk pengembangan asuransi bencana di Indonesia.
Indonesia Re berharap program iLearn dapat memperkuat industri perasuransian nasional dan mendorong peningkatan literasi serta penetrasi asuransi di Indonesia. Kolaborasi antara regulator, industri, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat menghasilkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan untuk tantangan industri asuransi di masa depan.