Penulis Cilik 9 Tahun Luncurkan Tiga Buku, Jadi Pengingat Krisis Literasi di Indonesia

AKM • Wednesday, 10 Jun 2026 - 10:05 WIB
Putri Alya Sidik (Kiri) dan Pemerhati Anak Seto Mulyadi -Ka Seto (Tengah), serta Gregoria Ira, Vice Principal Delima School Jakarta (Kanan)

JAKARTA – Di tengah dominasi gawai dan media sosial yang semakin menguasai keseharian anak-anak, kemunculan seorang penulis cilik berusia sembilan tahun menjadi kabar yang menyegarkan sekaligus mengundang refleksi tentang kondisi literasi di Indonesia.

Putri Alya Sidik, siswi sekolah dasar berusia sembilan tahun, meluncurkan tiga buku berbahasa Inggris yang tergabung dalam serial Diary of Alya pada acara yang digelar di Jakarta, Selasa (9/6). Kehadiran Alya menambah daftar pendek penulis cilik Indonesia yang mampu menghasilkan karya tulis sejak usia dini.

Peluncuran buku tersebut mendapat perhatian sejumlah tokoh nasional. Kata pengantar ditulis oleh Meutya Hafid, sementara komentar dan apresiasi datang dari Seto Mulyadi, Effendi Gazali, serta Inul Daratista.

Namun lebih dari sekadar peluncuran buku, kehadiran Alya menjadi sorotan karena muncul di tengah tantangan besar yang masih dihadapi Indonesia dalam bidang literasi.

Berbagai studi menunjukkan bahwa budaya membaca dan menulis masyarakat Indonesia masih menghadapi banyak hambatan. Di saat penggunaan internet dan perangkat digital terus meningkat, minat membaca buku dan kemampuan menulis secara mendalam dinilai belum berkembang secepat pertumbuhan teknologi.

Fenomena tersebut menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam diskusi saat peluncuran serial Diary of Alya. Menurut Seto Mulyadi, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kegemaran membaca dan menulis di Indonesia.

"Faktor pertama adalah minimnya keteladanan dan dorongan dari orang tua untuk membangun kebiasaan membaca sejak usia dini. Kedua, berkembangnya literasi digital yang cenderung pasif sehingga anak-anak lebih banyak mengonsumsi informasi secara cepat dibandingkan membaca secara mendalam," ujarnya kepada Media, Jakarta, Selasa  (10/6).

Selain itu, aktivitas menulis masih sering dipersepsikan sebagai kewajiban akademik semata.

"Akibatnya, anak kurang mendapatkan ruang untuk mengembangkan kreativitas dan mengekspresikan gagasan secara bebas melalui tulisan,"'tegasnya.

Akses Terhadap Buku

Masalah lainnya adalah belum meratanya akses terhadap buku, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Di sisi lain, budaya membaca juga belum menjadi kebiasaan yang kuat dalam banyak keluarga Indonesia.

"Anak yang terbiasa membaca dan menulis cenderung lebih mudah menyerap materi pelajaran apa pun. Membaca dan menulis adalah fondasi paling krusial dalam perkembangan anak," ujar Gregoria Ira, Vice Principal Delima School Jakarta.

Menurut Ira, kemampuan membaca dan menulis tidak hanya berkaitan dengan prestasi akademik, tetapi juga menjadi sarana utama untuk membentuk cara berpikir, kemampuan berkomunikasi, serta pemahaman anak terhadap lingkungan sekitarnya.

Ia menilai perkembangan teknologi digital memang membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan. Karena itu, sekolah perlu mencari keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan budaya literasi.

Delima School, misalnya, mengembangkan pendekatan yang memadukan konsep sekolah digital dengan metode pembelajaran konvensional melalui pembiasaan membaca dan menulis sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari siswa.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kisah Putri Alya Sidik menunjukkan bahwa budaya menulis masih dapat tumbuh di kalangan anak-anak apabila didukung lingkungan keluarga dan pendidikan yang tepat. Kehadirannya bukan hanya menjadi kebanggaan tersendiri, tetapi juga pengingat bahwa upaya membangun generasi literat perlu dimulai sejak usia dini.

Di saat jutaan anak menghabiskan waktu untuk mengonsumsi konten digital, Alya memilih menciptakan cerita dan menuliskannya menjadi buku. Pilihan sederhana itu sekaligus menjadi pesan bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga keberanian menuangkan gagasan dan imajinasi ke dalam karya yang dapat menginspirasi banyak orang.