Memaknai Kepedulian Sosial, Laznas BMH Luncurkan Buku ‘Bahagia dengan Berqurban’

AKM • Thursday, 29 Aug 2024 - 05:13 WIB
m sebuah Laznas BMH Luncurkan buku berjudul "Bahagia dengan Berqurban”

Jakarta - Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) telah sukses menggelar Program qurban di bulan Dzulhijjah 1446 H lalu. Penyaluran hewan kurban hingga ke pelosok Nusantara bahkan mancanegara menciptakan  sejumlah cerita berkesan dan penuh makna.

Kisah perjalanan yang syarat dengan makna ini kemudian dirangkum dalam sebuah buku berjudul "Bahagia dengan Berqurban." Buku yang mengangkat tema ibadah dan kepedulian sosial ditulis oleh Imam Nawawi, Ainuddin Chalik, Adam Sukiman, Azim Ar-Rasyid Sofyan, Bustanol Arifin, Puji Asmoro dan Rizki Ulfahadi.

Direktur BMH, Ustadz Supendi mengatakan, buku ini merupakan bentuk komitmen Baitul Maal Hidayatullah dalam menjalankan amanah ibadah qurban dari para mudhohi dan donatur, serta sebagai wujud nyata upaya dalam memberdayakan umat dan memperkuat solidaritas sosial.

"Buku ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang makna sejarah dan perkembangan kurban dalam Islam serta bagaimana BMH mengelola dan mendistribusikan daging kurban dengan cepat tepat sasaran dan multi manfaat," ujar Supendi saat peluncuran buku "Bahagia dengan Berqurban", Jakarta,  Rabu (28/08).

Dalam buku ini diuraikan berbagai aspek yang terkait dengan qurban, mulai dari dalil-dalil syariat, nilai-nilai spiritual dan sosial, hingga tantangan dan inovasi dalam pengelolaan qurban di era modern. Selain itu juga diuraikan berbagai program pemberdayaan sosial yang terbangun dalam ekosistem program qurban, baik untuk kemandirian Pesantren, Da'i dan masyarakat pedalaman.

"Kami berharap buku ini dapat menginspirasi kita semua untuk terus berkontribusi dalam kebaikan dan pemberdayaan umat," kata Direktur Utama BMH, Ustadz Supendi.

Sementara itu, Imam Nawawi salah seorang penulis menyampaikan, didalam buku ini digambarkan pelaksanaan ibadah kurban di pelosok desa, terpencil, pedalaman, pesisir hingga tapal batas negara. Dimana setiap Idul Adha, mereka hanya berharap, adakah yang mengirim hewan qurban ke desanya.

Bahkan lanjut Imam, ada yang selama 20 tahun tidak pernah menikmati lezatnya daging, karena tidak ada yang berqurban disana. Namun fakta itu tidak boleh menjadi kesedihan, melainkan dapat bergerak dengan menguatkan gotong royong sebagai sebuah tindakan yang relevan.

"Setidaknya melalui momentum qurban kita bisa buktikan bahwa upaya pemerataan konsumsi daging itu bisa. Siapa yang paling potensial mampu menjembatani soal ini, tidak lain adalah lembaga-lembaga filantropi Islam," ucap Imam yang juga sebagai Kepala Humas BMH Pusat.

Laznas BMH menjadi salah satu filantropi Islam sekaligus lembaga amil zakat nasional yang memiliki konsentrasi program ke titik pedalaman, pesisir, pelosok hingga tapal batas negara. Hal ini karena dukungan dari jaringan dakwah Hidayatullah berupa pesantren dan Da'i yang tersebar di 600-an titik di seluruh Indonesia.

"Khusus dalam program qurban, Da'i tangguh menjadi person terdepan dalam implementasi," ujarnya.

Imam berpesan, kita sebagai umat Islam harus berpikir apa langkah yang bisa kita berikan untuk kemajuan bangsa ini. Kalau kita sudah bisa memberikan satu langkah baik, maka kebaikan itu bagaimana kita lipat gandakan. 

Oleh karena itu, upaya menerbitkan buku ini harus menjadi sebuah kesadaran bersama untuk menjadikan literasi sebagai sebuah arus yg menjadikan umat dan bangsa ini semakin cinta pada kebaikan.

"Kalau kita lihat filosofi qurban itu adalah tentang bagaimana seorang manusia betul-betul mengenal Tuhan-Nya, yang dia berorientasi untuk mendapatkan cinta dari Tuhan dan dengan cinta dari Tuhan itulah dia bisa menjadi orang menebarkan cinta, kasih sayang dan pembangunan," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Pegiat Literasi Maman Suherman mengungkapkan, banyak hal bisa dipetik dari buku "Bahagia dengan Berqurban.

“Saya berharap kisah program qurban bersama BMH tidak hanya berhenti disini, tapi ada buku-buku berikutnya yang semakin menambah literasi bagi masyarakat,”  ujar Maman Suherman yang akrab di sapa Kang Maman.

Menurut Kang Maman, buku  ini sangat bagus, karena juga turut menggambarkan qurban itu juga merupakan bagian dari diplomasi politik, kemanusiaan dan peradaban. 

“Ada empat point yang harus dilakukan dari buku ini, yakni sebar, tebar, abadikan dan bahagiakan," tandasnya.