Hari Lingkungan Hidup Sedunia, PPLI Ajak Manfaatkan Teknologi Ramah Lingkungan Dan Restorasi Lahan

FAZ • Wednesday, 5 Jun 2024 - 21:33 WIB

Jakarta - PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) memperingati hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh Rabu (5/6/2024).

Di momentum ini, PPLI menyuarakan pentingnya memanfaatkan tekonologi ramah lingkungan dan restorasi lahan untuk bumi yang semakin baik.

"Industri dapat menjaga bumi dengan melakukan restorasi lahan yang telah dirusak saat di ambil kandungannya. PPLI merasa perlu mengingatkan sebagai bagian dari tanggungjawab sosial," ujar Presiden Direktur PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), Yoshiaki Chida.

Chida berharap, kalangan industri mampu memanfaatkan teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan. "Indonesia memiliki teknologi pengolahan limbah industri yang ramah lingkungan. Silakan dimanfaatkan," pesannya.

Pria asal Jepang ini mengamini, kerusakan lingkungan terus meluas seiring perkembangan industri yang kian pesat di dunia. Perusakan hutan, pencemaran tanah, air dan udara oleh limbah, hingga perubahan iklim terus meningkat dan berdampak kerusakan muka bumi.

Chida mengatakan, untuk bencana alam mungkin kedatangannya tidak bisa dihindari. Namun, ketika kerusakan itu disebabkan manusia seperti perusakan hutan dan pencemaran limbah, bisa dicegah dengan semangat menjaga bumi sebagai rumah dan masa depan bersama.

Dirincikannya, ada sejumlah langkah mencegah pencemaran limbah. Yaitu, mengetahui jenis-jenis limbah dan cara memperlakukannya, tidak menebang pohon tanpa perencanaan hingga pentingnya melakukan pemulihan lahan terkontaminasi.

"Kemudian, bagi kalangan industri, taati regulasi, mulai dari penyiapan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) hingga memastikan limbah yg dihasilkan juga betul-betul sudah bebas dari kandungan berbahaya bagi lingkungan sebelum dilepas ke media lingkungan," tegasnya.

Untuk itu, pesannya, jangan abaikan tanggungjawab terhadap alam. Bersikap adil pada bumi sama dengan menjaga kelangsungan hidup peradaban umat manusia di masa depan.

"Karena bumi ini harapan generasi saat ini dan yang akan datang, perhatikan tindakan kita terhadap alam ini. Salahsatunya lakukan restorasi lahan yang telah dimanfaatkan. Jangan diabaikan begitu saja," katanya.

Untuk restorasi lahan, lanjut Chida, PPLI juga memiliki layanan remediasi (pemulihan) lahan terkontaminasi Limbah B3.

"Bagi kalangan industri yang membutuhkan pelayanan tersebut, PPLI siap membantu pemulihan lahan secara on site," imbuhnya.

Dijelaskannya, remediasi lahan ini bertujuan untuk merehabilitasi tanah yang terkontaminasi atau terdegradasi akibat pencemaran, mendukung keanekaragaman hayati, dan meningkatkan kesehatan ekosistem.

Disebutkannya, PPLI sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di pengolahan limbah industri baik bahan beracun berbahaya (B3) maupun non B3. Perusahaan yang telah genap berusia 30 tahun beroperasi di Indonesia ini sahamnya dikuasai oleh perusahaan asal Jepang DOWA Ecosystem Co Ltd bekerjasama dengan pemerintah Indonesia.

Selain remediasi lahan yang dilakukan onsite, PPLI memiliki sejumlah fasilitas pengolahan limbah ramah lingkungan yang berada di industri pengolahannya di Desa Nambo, Kabupaten Bogor.

Di antara fasilitas teknologi modern itu yang terbaru adalah pemusnahan limbah dengan metode thermal menggunakan Insinerator yang di design khusus berkapasitas besar (50-ton perhari), hingga teknologi pengolahan limbah trafo atau PCBs (Polychlorinated Biphenyls). Total kemampuan daya tampung pengolah limbah di PPLI saat ini hingga 500 ton perhari.

"Dengan didukung fasilitas dan teknologi yang kami miliki, kuantitas limbah sebesar itu tetap dijamin aman bagi lingkungan," tutup Chida.

Diketahui, Hari Lingkungan Hidup tahun 2024 dikutip dari situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengangkat tema

"Restorasi lahan, penggurunan dan ketahanan terhadap kekeringan. Sedangkan untuk tema nasional, Pemerintah menetapkan “Penyelesaian Krisis Iklim dengan Inovasi dan Prinsip Keadilan”.

Keduanya, menjadi pengingat sekaligus ajakan bahwa penyelesaian akar masalah krisis iklim dan kerusakan ekosistem harus diselesaikan dengan inovasi yang dilaksanakan secara konsisten oleh seluruh pemangku kepentingan.