
Jakarta – Penerapan PPKM Darurat di Jawa-Bali sejak 3 Juli lalu, diwarnai dengan perilaku segelintir masyarakat yang membandel. Mulai dari coba-coba menerobos penyekatan, hingga masih asyik nongkrong dan berkerumun.
Korporasi pun sama saja. Dalam inspeksinya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menemukan sejumlah perusahaan masih memerintahkan pekerjanya datang ke kantor, meski tidak termasuk bidang usaha esensial.
Menanggapi hal ini, pengamat sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati menilai, apa yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan fenomena umum di dunia.
“Di seluruh dunia semua orang mengalami kelelahan dengan fenomena covid-19. Itu hal yang alamiah dan dampaknya masyarakat menjadi tidak sensitif,” kata Devie dalam program Trijaya Hot Topic Pagi, Rabu (7/7/2021).
Ia membantah jika perilaku yang ditunjukkan masyarakat selama PPKM, dianggap sebagai wajah keseluruhan orang Indonesia yang tidak disiplin. Bahkan ia menilai, masyarakat Indonesia sebenarnya lebih fleksibel dan mudah diatur ketimbang penduduk di negara besar lain, semisal Amerika dan India.
“Tingkat kepatuhan Indonesia sebenarnya jauh lebih manageable. Termasuk yang paling fleksibel dibanding negara dengan populasi besar lainnya. Kalaupun ada sebagian yang bandel, tinggal perkuat saja komunikasinya. Dalam konteks PPKM sekarang, ada tanggung jawab institusi juga yang seharusnya lebih serius,” pungkas Devie.