
JAKARTA - Mahasiswa yang dikenal dengan elemen agent of change tentu diharapkan tetap berjalan dengan tupoksi dan perannya. Mengawal perubahan pun harus diawali dengan kajian yang bebas kepentingan. Selain itu, mahasiswa harus ingat dengan identitasnya sebagai masyarakat kampus akademik yang mengedepankan sikap santun dan penuh dedikasi. Yaitu mengedepankan substansi dari pada sekedar eksistensi.
Demikian ditegaskan Mahasiswa dan Aktivis HMI, Romadhon Jasn, di Jakarta, Minggu (4/7/2021).
Menurut Romadhon, munculnya aksi BEM UI yang menyampaikan kritik "The King of Lip Service" kepada Presiden Joko Widodo, merupakan hal biasa. Namun demikian, katanya, harus disertai kajian dan diskusi mendalam, agar tidak terkesan mencari sensasi.
"Terkait dengan munculnya suara BEM dari beberapa kampus akhir-akhir ini saya menilainya sah-sah saja. Hanya saja sekali lagi, harus disertai kajian dan diskusi yang serius biar tidak muncul kesan hanya mencari sensasi, sedangkan substansi dan orientasi gerakannya tidak jelas," kata mahasiswa S2 Komunikasi Politik Jayabaya tersebut.
Apalagi menurutnya, muncul "penumpang gelap" dari kalanganh politisi bertujuan untuk memprovokasi.
"Apalagi saya melihatnya munculnya penumpang gelap dari kalangan politisi yang tujuannya jelas hanya memprovokasi. Politisi sudah jelas kepentingannya, yaitu kepentingan kelompok dan partainya. Sudah jauh dari gerakan sosial, maka seharusnya para politisi jangan ikut-ikutan memberi komentar soal suara beberap BEM tersebut. Apalagi sampai ada yang memberi komentar akan ikut demo jika mahasiswa turun jalan," tambahnya
Oleh karenanya, ia meminta semua pihak untuk menjaga bersama kemurnian gerakan mahasiswa.
"Jangan dikotori dengan kepentingan politik, tegasnya. (ANP)