
Jakarta – Di bulan Ramadhan, mengisi waktu menjelang berbuka puasa menjadi salah satu kegiatan yang diminati masyarakat. Meski Ramadhan kali ini masih berlangsung di tengah pandemi, namun tidak menjadi penghalang untuk tetap produktif dan kreatif walau hanya dari rumah.
Ketua Hubbul Waton Indonesia-19, Ustadz Hendi Suhartono, misalnya, banyak melakukan kegiatan kreatif saat ramadhan. Bahkan waktunya lebih panjang dibanding bulan-bulan biasa.
“Biasanya tuh ada jam kerja ya, jadi biasanya kan kita mulai kegiatan jam 7 pagi. Kalau di bulan Ramadhan kita bisa mulai aktifitas setelah subuh. Jadi waktu lebih panjang dari biasanya, dan kita bisa lebih produktif lagi selama bulan Ramadhan,” ujar Hendi pada program Trijaya Hot Topic Petang Rabu (14/4/2021).
Hendi menambahkan, selama bulan Ramadhan ini Hubbul Waton telah melaksanakan bakti sosial ke masyarakat. Ada 100 paket bingkisan yang diberikan kepada pekerja dan masyarakat yang mengikuti bakti sosial. Selain itu, ada kegiatan lain seperti kumpul bareng, kajian, dan ngobrol bersama dengan sesama anggota Hubbul Waton.
“Kita selalu berkegiatan, berdiskusi bersama masyarakat. Misi dari yayasan ini adalah ingin kehadiran kami menjadi bermanfaat bagi orang lain. Masyarakat luar juga bisa mengikuti kegiatan yang diadakan Hubbul Waton. Kita ingin terus bersinergi dengan masyarakat membangun NKRI bersama,” ujar Hendi.
Sementara itu penulis buku 'Hijrah Radikal ke Moderat", Haris Amir Falah menyampaikan bulan Ramadhan adalah bulan perjuangan. Perjuangan di sini tentu berbeda konteks dengan yang ada pada zaman Rasulullah. Perjuangan di era sekarang adalah berjuang untuk memperbaiki diri sendiri, memperbaiki keluarga, memperbaiki bangsa dan masyarakat.
“Di bulan Ramadhan ini harus semakin timbul semangat. Sebenarnya jika perut tidak diisi kan otak kita makin pintar. Kalau perut sudah kenyang orang malah malas, malah jadi tidak kreatif. Justru sekarang ini timbul kreatifitas yang mengarah pada kebaikan. Misalnya memberikan semangat untuk orang bershodaqoh. Memberi kebaikan ke orang lain apapun itu, yang paling kecil sekalipun seperti senyum itu adalah shodaqoh kita terhadap orang lain,” kata Haris.
Haris menyarankan, belajar agama saat Ramadhan, sebaiknya tidak secara otodidak. Harus ada yang membimbing, agar ajaran yang dipelajari bisa diamalkan dengan baik dan tidak menyimpang. Rasulullah pun saat belajar agama tidak sendiri, tapi didampingi oleh malaikat Jibril.
“Allah mengajarkan kita di bulan Ramadhan, puasa menjadikan kita orang yang beriman dan bertakwa. Puasa tidak menjadikan kita orang yang berdiam diri dan malas tetapi menjadi orang yang kreatif, inovatif, dan punya pembaharuan dalam hidup. Walaupun kita sedang berpuasa, kita harus tetap semangat dalam menjalankan aktifitas kita,” tutup Haris. (Daf)