Indonesia Bawa Kisah Orang Laut ke Panggung Dunia! Kepala ANRI: Jangan Biarkan Memori Peradaban Maritim Hilang Ditelan Zaman

ANP • Tuesday, 3 Nov 2026 - 18:39 WIB

JAKARTA – Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah pertemuan internasional UNESCO. Lebih dari itu, Indonesia membawa misi besar untuk memperkenalkan kekayaan sejarah, kebudayaan, dan ingatan masyarakat maritim kepada dunia. Melalui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), kisah Orang Laut, masyarakat Bajo, Moken, dan komunitas pengembara laut lainnya akan diangkat dalam forum internasional UNESCO Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) di Jakarta, 3–5 November 2026.

Penyelenggaraan General Meeting ke-11 UNESCO MoWCAP ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi budaya sekaligus menunjukkan bahwa arsip merupakan bagian penting dari identitas dan peradaban bangsa.

Kegiatan tersebut dijadwalkan dibuka Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada 3 November 2026 di Ruang Serbaguna Noerhadi Magetsari, ANRI, Jakarta Selatan.

Kepala ANRI Dr. Mego Pinandito, M.Eng. menegaskan bahwa pelestarian arsip bukan sekadar menyimpan dokumen bersejarah, melainkan menjaga ingatan dan pengetahuan manusia agar tidak terputus oleh perubahan zaman.

"Arsip bukan hanya tentang masa lalu. Di dalam arsip tersimpan identitas, pengetahuan, pengalaman, dan perjalanan peradaban manusia. Ketika kita menyelamatkan arsip, sesungguhnya kita sedang menjaga ingatan sebuah bangsa agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang," demikian draf pernyataan Kepala ANRI.

LIMA WARISAN DOKUMENTER INDONESIA DIPERJUANGKAN DI REGISTER UNESCO

Dalam General Meeting ke-11 ini, salah satu agenda penting adalah pembahasan nominasi Register Regional MoWCAP siklus 2025–2026. Indonesia mengajukan lima warisan dokumenter yang merepresentasikan kekayaan sejarah dan kebudayaan bangsa.
Kelima nominasi tersebut adalah:
- Arsip Batik: Perdagangan Global dan Jaringan Kebudayaan di Asia Pasifik (1870–1990).
- Manuskrip dan Arsip Temulawak: Pengetahuan Lokal untuk Pengobatan Modern (1897–2024).
- Bo' Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima, Saksi Letusan Tambora 1815.
- Kidung Bhuwana Wināśa atau Lagu tentang Dunia Binasa.
- Koleksi Pusat Dokumentasi H.B. Jassin (1764–2000): Rumah Permata Literasi.

Lima nominasi tersebut memperlihatkan betapa luasnya kekayaan dokumenter Indonesia. Ada jejak perdagangan dan pertemuan kebudayaan, pengetahuan pengobatan tradisional, sejarah kerajaan dan bencana alam, karya sastra klasik, hingga dokumentasi perjalanan kesusastraan Indonesia.

Para delegasi akan mengikuti pembahasan laporan komite nasional, presentasi nominasi, laporan Register Sub-Committee, serta pemungutan suara untuk Register Regional MoWCAP.

Bagi Indonesia, proses ini bukan semata-mata tentang pengakuan internasional, tetapi juga upaya memperluas akses dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya warisan dokumenter.

ORANG LAUT, PENJAGA PENGETAHUAN MARITIM YANG HARUS DIDENGAR DUNIA

Salah satu agenda yang menjadi perhatian khusus adalah seminar internasional bertajuk "The World of Water: Orang Laut, Documentary Heritage, and Memory of the World" pada 3 November 2026.
Seminar ini mengangkat kehidupan masyarakat pengembara laut atau sea nomads sebagai bagian penting dari sejarah dan memori kolektif Asia Tenggara.

Komunitas Bajo atau Same-Bajau, Moken, Suku Laut, dan kelompok maritim lainnya memiliki perjalanan sejarah, tradisi, serta pengetahuan yang berkembang melalui hubungan panjang dengan laut.
Pengetahuan tentang lingkungan laut, tradisi lisan, pola kehidupan, hingga pengalaman berpindah antarpulau merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu didokumentasikan dan diwariskan.
Namun, masih banyak kisah masyarakat maritim yang belum sepenuhnya dikenal dalam catatan sejarah dan dokumentasi internasional.

Kepala ANRI Dr. Mego Pinandito, M.Eng menekankan pentingnya menghadirkan masyarakat sebagai bagian utama dalam pelestarian warisan dokumenter.

"Jangan sampai kisah masyarakat yang telah hidup bersama laut selama berabad-abad justru hilang dari ingatan dunia. Mereka bukan sekadar objek sejarah, melainkan pemilik pengetahuan, pengalaman, dan tradisi yang menjadi bagian dari kekayaan peradaban manusia. Suara dan ingatan mereka harus ikut direkam, dihargai, dan diwariskan," katanya.

Seminar internasional ini menghadirkan tiga sesi pleno yang membahas komunitas nomaden dalam konteks global, masyarakat pengembara laut di Asia Tenggara beserta warisan dokumenternya, serta memori komunitas Orang Laut.

Sejumlah pembicara yang dijadwalkan hadir antara lain Prof. Aijarkyn Kojobekova, Prof. Mitsuru Haga, Dedi Adhuri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Singgih Tri Sulistiyono dari Universitas Diponegoro, Ernie Bajau selaku Ketua Umum Perkumpulan Orang Same-Bajau Indonesia, serta Pudentia selaku Ketua Asosiasi Tradisi Lisan.

Keterlibatan perwakilan komunitas menjadi hal penting dalam seminar ini. Sebab, pelestarian sejarah tidak cukup hanya dilakukan melalui pencatatan dari sudut pandang peneliti atau lembaga, tetapi juga harus melibatkan masyarakat sebagai pemilik memori dan pengetahuan tersebut.

THE WORLD OF WATER: MENGHIDUPKAN KEMBALI JEJAK SEJARAH LAUT

Tidak hanya melalui forum diskusi, ANRI juga menghadirkan pameran tematik "The World of Water" pada 3–5 November 2026 di Gedung C ANRI, Jakarta Selatan.

Pameran ini menampilkan arsip, manuskrip, foto, film, dan berbagai bentuk dokumentasi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pengembara laut. Koleksi berasal dari ANRI, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, serta lembaga pelestari warisan dokumenter lainnya di Indonesia.

Melalui pameran tersebut, masyarakat dapat melihat bagaimana kehidupan masyarakat maritim direkam dalam berbagai bentuk dokumen. Jejak visual dan tertulis itu memperlihatkan hubungan erat antara laut, sejarah, kebudayaan, pengetahuan, dan kehidupan manusia.

Laut bukan hanya bentang alam yang memisahkan pulau-pulau. Bagi masyarakat maritim, laut merupakan ruang kehidupan, sumber pengetahuan, jalur pertemuan budaya, sekaligus bagian dari identitas yang diwariskan antargenerasi.

DORONG KOLABORASI LINTAS NEGARA, BAWA INGATAN ORANG LAUT KE MEMORY OF THE WORLD

Lebih jauh, seminar internasional ini diharapkan menghasilkan rekomendasi untuk memperkuat pelestarian warisan dokumenter masyarakat pengembara laut melalui kerja sama lintas negara. Salah satu gagasan yang didorong adalah kolaborasi dalam mengidentifikasi dan mengusulkan warisan dokumenter terkait masyarakat Orang Laut ke dalam Register Memory of the World UNESCO. Upaya tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi kisah dan pengetahuan masyarakat maritim memperoleh perhatian lebih luas di tingkat internasional.

Kepala ANRI menegaskan bahwa kerja sama internasional menjadi kunci untuk memastikan warisan dokumenter tidak hanya tersimpan, tetapi juga dapat diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

"Kita ingin warisan dokumenter tidak berhenti menjadi koleksi di ruang penyimpanan. Arsip harus dapat diakses, dipelajari, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui kerja sama internasional, kita berharap semakin banyak kisah dan pengetahuan lokal Indonesia yang dikenal dunia," ujar Mego Pinandito

Penyelenggaraan General Meeting ke-11 UNESCO MoWCAP, seminar internasional, dan pameran The World of Water merupakan bagian dari komitmen ANRI dalam pelestarian warisan dokumenter serta pelaksanaan fungsi Sekretariat Komite Nasional Memory of the World Indonesia.

Melalui kegiatan ini, Indonesia tidak hanya memperkenalkan dokumen bersejarah, tetapi juga membawa pesan bahwa setiap masyarakat memiliki sejarah yang layak diingat. Karena sejarah dunia bukan hanya milik mereka yang menulis peradaban, tetapi juga milik mereka yang menjaga pengetahuan, mewariskan tradisi, dan mengarungi lautan dari generasi ke generasi. Dan jangan sampai kisah mereka hilang sebelum sempat dikenal dunia.