
JAKARTA – Pandemi Covid-19 tidak hanya membawa dampak terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga memengaruhi kondisi ekonomi dan kesempatan kerja banyak orang. Di tengah situasi tersebut, Firda Subaida justru menemukan peluang baru melalui media sosial yang kini berkembang menjadi salah satu sumber penghasilannya.
Perempuan kelahiran 1 Juli 1987 itu mengawali aktivitas sebagai kreator konten tanpa ambisi khusus untuk menjadi influencer. Saat pandemi melanda dan pekerjaan semakin sulit diperoleh, ia mencoba membuat video TikTok sekadar untuk mengisi waktu luang.
Konten pertamanya berupa video keseharian atau a day in my life yang saat itu tengah populer di platform tersebut. Dari aktivitas sederhana yang dibagikannya, Firda perlahan mendapatkan perhatian pengguna media sosial.
“Awalnya benar-benar cuma iseng. Waktu itu krisis ekonomi saat pandemi, pekerjaan juga susah. Akhirnya saya bikin video TikTok yang lagi tren, seperti a day in my life,” ungkap Firda dalam keterangan tertulis kepada Media, Jakarta, Minggu (1/11).
Seiring berjalannya waktu, konten yang dibuatnya mulai menjangkau lebih banyak penonton. Kini, akun TikTok @firda_subaida telah memiliki sekitar 784 ribu pengikut.
Materi yang dibagikan Firda sebagian besar berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari memasak, berbelanja kebutuhan rumah tangga, hingga mengelola warung sembako kecil-kecilan menjadi bagian dari konten yang rutin diunggahnya.
Menurut Firda, respons positif dari penonton menjadi motivasi tersendiri untuk terus berkarya. Ia melihat banyak pengikutnya merasa memiliki pengalaman serupa dengan aktivitas yang ditampilkan dalam video.
“Ternyata banyak yang suka. Dari situ saya makin semangat bikin konten. Saya memang ingin berbagi kegiatan sehari-hari, ternyata banyak yang merasa relate dengan apa yang saya bagikan,” tuturnya.
Selain mengandalkan cerita keseharian, Firda juga memiliki ciri khas tersendiri yang membuat kontennya mudah dikenali. Salah satunya adalah ungkapan spontan “digaloy-galoy” yang kerap terlontar ketika dirinya sedang memasak.
Ungkapan tersebut kemudian menjadi identitas yang melekat pada sejumlah videonya. Ia juga membagikan berbagai resep masakan rumahan, termasuk resep dendeng ragi yang mendapat perhatian dari para pengikutnya.
Perkembangan jumlah audiens di TikTok turut mendorong Firda memperluas jangkauan melalui platform media sosial lainnya. Ia aktif di Facebook dengan akun @firdamamiyofin serta Instagram melalui akun @mamafirda01 yang memiliki sekitar 17,3 ribu pengikut.
Konten yang disajikan di Instagram juga lebih beragam. Selain video aktivitas sehari-hari, Firda membagikan ulasan produk kosmetik dan perawatan kulit, fashion, kuliner, hingga vlog.
Bertambahnya jangkauan audiens kemudian membuka kesempatan kerja sama dengan sejumlah merek. Firda mulai dipercaya mempromosikan berbagai produk melalui program affiliate, terutama untuk kategori kecantikan dan perawatan kulit.
Dari aktivitas tersebut, ia mengaku memperoleh penghasilan yang cukup signifikan. Menurut Firda, pendapatan dari affiliate dalam kondisi tertentu dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulan.
“Alhamdulillah, saya dipercaya banyak brand. Dari affiliate, saya bisa mendapatkan penghasilan puluhan sampai ratusan juta rupiah dalam sebulan. Beberapa kali saya juga mendapatkan reward karena target penjualan tercapai,” katanya.
Meski demikian, perjalanan Firda menunjukkan perubahan aktivitas yang cukup besar. Sesuatu yang awalnya dilakukan untuk mengisi waktu luang di tengah keterbatasan ekonomi kini berkembang menjadi kegiatan produktif yang memberikan peluang pendapatan.
Pengalamannya juga memperlihatkan bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk membangun audiens sekaligus memperkenalkan produk. Konten yang dekat dengan keseharian, karakter komunikasi yang khas, serta konsistensi dalam mengunggah materi menjadi bagian dari perjalanan yang ia jalani.
Kini, Firda Subaida terus mengembangkan aktivitasnya sebagai kreator konten dengan menghadirkan beragam tema, mulai dari kuliner hingga ulasan produk. Dari video sederhana yang dibuat saat pandemi, ia berhasil membangun komunitas pengikut dan membuka peluang ekonomi melalui industri pemasaran digital.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa perubahan kondisi dapat mendorong seseorang menemukan kesempatan baru, termasuk melalui pemanfaatan teknologi dan platform digital.