
JAKARTA — Persatuan Robotika Seluruh Indonesia (PRSI) bersama Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan Program Robotika untuk Negeri di Gedung Kementerian Agama RI, Jakarta, Senin (26/10/2026). Program ini menargetkan 500 satuan pendidikan untuk memperluas akses pembelajaran robotika dan kecerdasan buatan (AI) bagi santri serta siswa di berbagai daerah.
Dari total sasaran tersebut, sebanyak 350 merupakan pesantren dan 150 lainnya sekolah umum. Sekretariat Wakil Presiden turut mendukung program ini sebagai fasilitator koordinasi dan integrasi antarlembaga.
Peluncuran dihadiri Ketua Umum PRSI Wahyu Hidayat, Sekretaris Jenderal PRSI Dwi Nugroho Marsudianto, Bendahara Umum PRSI Herliana Widiawanti, serta jajaran organisasi tersebut. Sejumlah pejabat pemerintah juga hadir, di antaranya Staf Khusus Wakil Presiden Achmad Adhitya, Direktur Jenderal Direktorat Pesantren Kemenag Basnang Said, Pembina Tim Kerja Peserta Didik Direktorat SMP Kemendikdasmen Harnowo Susanto, dan Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Sekretariat Wakil Presiden Eddy Cahyono Sugiharto.
Ketua Umum PRSI Wahyu Hidayat mengatakan, program tersebut dirancang untuk memperluas kesempatan belajar teknologi, khususnya bagi pelajar yang memiliki keterbatasan fasilitas pendidikan.
“Santri dan siswa, termasuk mereka yang belajar di pesantren dan sekolah dengan keterbatasan fasilitas, harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kompetensi teknologi,” kata Wahyu dalam sambutannya.
Menurut dia, pembelajaran robotika dan AI dapat menjadi bagian dari penguatan pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Selain mengenalkan teknologi, pembelajaran tersebut diharapkan melatih kemampuan berpikir komputasional, kreativitas, pemecahan masalah, dan inovasi.
Wahyu mengatakan, pengembangan program tidak hanya berorientasi pada pengenalan teknologi, tetapi juga pada pembentukan talenta yang mampu menghasilkan inovasi dan solusi bagi masyarakat.
“Kita ingin generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam rangkaian peluncuran, PRSI juga menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan tiga mitra, yakni STMIK DCI Tasikmalaya, PT Handal Yesindo Sejahtera, dan PT Agro Global Synergy.
Kerja sama tersebut ditujukan untuk memperkuat kolaborasi antara organisasi, lembaga pendidikan, dan sektor industri dalam pengembangan ekosistem robotika serta sumber daya manusia di bidang teknologi.
Program Robotika untuk Negeri diharapkan membuka akses yang lebih luas bagi santri dan siswa untuk mempelajari robotika dan AI. Namun, pelaksanaan target 500 satuan pendidikan tersebut akan bergantung pada tindak lanjut program, termasuk mekanisme pemilihan peserta, ketersediaan tenaga pengajar, fasilitas pembelajaran, dan keberlanjutan pelatihan.
Melalui kolaborasi lintas lembaga tersebut, PRSI dan para mitranya mendorong pemerataan pendidikan teknologi agar lebih banyak generasi muda dapat berpartisipasi dalam pengembangan robotika dan kecerdasan buatan di Indonesia.