
Jakarta — Menghubungkan gagasan dengan aksi nyata menjadi salah satu tantangan utama gerakan orang muda di Indonesia. Di tengah beragamnya komunitas, organisasi, dan inisiatif yang tumbuh di berbagai daerah, tantangan berikutnya adalah membangun keterhubungan lintas sektor agar potensi tersebut dapat saling melengkapi dan menghasilkan kontribusi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Dalam sesi media terbatas yang berlangsung pada 26 Oktober 2026 di kawasan Jakarta Pusat, Founder Rembuk Pemuda, Aidil Afdan Pananrang, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas elemen masyarakat dalam menjawab persoalan pembangunan Indonesia. Sesi tersebut turut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Rembuk Pemuda, Syafruddin Lessy, dan Ketua Panitia Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-3, Sultan Rivandi.
Aidil menilai bahwa persoalan pembangunan Indonesia membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, bukan hanya aktivis atau organisasi kepemudaan. Pengusaha, profesional, akademisi, komunitas, dan berbagai kelompok lainnya memiliki perspektif serta kapasitas yang dapat saling melengkapi dalam menjawab persoalan bangsa.
“Menurut saya, tantangan terbesar gerakan orang muda hari ini adalah bagaimana menjembatani gagasan dengan aksi. Persoalan Indonesia tidak bisa diselesaikan dari satu perspektif saja. Kita membutuhkan pengusaha, pekerja profesional, akademisi, aktivis, dan berbagai elemen masyarakat lainnya. Banyak anak muda memiliki ide besar dan inisiatif yang baik, tetapi bagaimana semua potensi itu bisa saling terhubung, bekerja sama, dan membangun sesuatu yang dampaknya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang? Di situlah pentingnya kolaborasi,” ujar Aidil.
Dalam tiga tahun perjalanannya, Rembuk Pemuda telah membangun jaringan di 29 provinsi di Indonesia. Bagi organisasi ini, perluasan jaringan bukan semata-mata tentang jangkauan geografis, melainkan upaya menghubungkan potensi orang muda dengan kebutuhan masyarakat dan isu pembangunan di daerah masing-masing. Jaringan tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi pertukaran perspektif, penguatan kapasitas, dan kolaborasi lintas wilayah maupun lintas sektor.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif di sejumlah bidang. Dalam pemberdayaan perempuan, Rembuk Pemuda menyelenggarakan Women Empowerment Symposium di Bali. Di sektor pendidikan, gerakan Peduli Pendidikan menjangkau wilayah pelosok Papua Tengah. Sementara itu, inisiatif penanaman mangrove menjadi bagian dari upaya pelestarian lingkungan di berbagai provinsi.
Di bidang ketahanan pangan, Rembuk Pemuda mengembangkan Brigade Pangan Rembuk Pemuda untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian. Rembuk Pemuda juga terlibat dalam aksi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana, termasuk penanganan dampak banjir di Sumatera dan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Ragam inisiatif tersebut mencerminkan luasnya ruang kontribusi orang muda, mulai dari pemberdayaan masyarakat, akses pendidikan, keberlanjutan lingkungan, dan ketahanan pangan hingga respons kemanusiaan. Isu-isu tersebut membutuhkan pendekatan yang beragam sekaligus keterlibatan berbagai pihak agar upaya yang dilakukan dapat menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih relevan.
Namun, Aidil menekankan bahwa banyaknya inisiatif dan luasnya jaringan perlu diikuti dengan penguatan kualitas gerakan. Kolaborasi tidak cukup dibangun melalui pertemuan atau kesamaan visi, tetapi memerlukan pemahaman yang mendalam terhadap persoalan, kemampuan melihat berbagai perspektif, dan komitmen untuk mengembangkan gagasan menjadi solusi.
“Rembuk Pemuda ingin mengajak anak-anak muda memahami bahwa negara merupakan sesuatu yang kompleks dan terus berubah. Persoalan pembangunan tidak bisa selalu dijelaskan melalui kesimpulan sederhana karena setiap persoalan memiliki konteks, dinamika, dan kepentingan yang perlu dipahami. Kita perlu membangun optimisme yang mendorong anak muda untuk bergerak, tanpa kehilangan daya kritis dalam melihat persoalan,” kata Aidil.
Ia juga menekankan pentingnya mendorong lahirnya organic intellectual atau intelektual organik, yakni individu yang mampu memahami persoalan dari bidang dan lingkungan sosialnya, membangun pemikiran berdasarkan realitas yang dihadapi, serta terlibat dalam upaya mencari solusi. Dalam konteks gerakan orang muda, pendekatan ini menempatkan pengetahuan dan pengalaman sebagai dasar untuk menghasilkan kontribusi yang relevan bagi masyarakat.
“Bagi kami, penting untuk melahirkan organic intellectual dari kalangan anak muda—mereka yang memahami persoalan di bidangnya masing-masing dan tidak berhenti pada kritik, tetapi turut mengambil bagian dalam mencari solusi. Dalam perspektif ekonomi, misalnya, berbagai upaya untuk memperluas keadilan ekonomi merupakan bagian dari persoalan pembangunan yang perlu dipahami dan dikawal secara kritis oleh generasi muda,” tambahnya.
Semangat tersebut menjadi salah satu landasan penyelenggaraan Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-3 (RNPI-3), yang puncak acaranya akan berlangsung pada 31 Oktober 2026 di The Tribrata Hotel, Jakarta. Menjelang penyelenggaraan forum nasional tersebut, Rembuk Pemuda ingin mempertemukan pengalaman, perspektif, dan inisiatif orang muda dari berbagai daerah sebagai ruang untuk memperluas dialog dan membuka peluang kolaborasi.
RNPI-3 diharapkan tidak hanya menjadi forum pertemuan, tetapi juga momentum untuk memperkuat hubungan antarinisiatif yang selama ini berkembang di berbagai wilayah. Melalui pertukaran pengalaman dan gagasan, peserta diharapkan dapat mengenali tantangan bersama, memahami perbedaan konteks daerah, serta menemukan ruang kerja sama yang memungkinkan kontribusi mereka berkembang lebih luas.
“Jaringan yang kita bangun tidak boleh berhenti pada struktur organisasi atau pertemuan. Anak-anak muda di berbagai daerah perlu memiliki ruang untuk saling belajar, memperkuat kapasitas, dan bekerja bersama menjawab persoalan yang ada. Gagasan perlu diuji, aksi perlu memiliki arah yang jelas, dan kolaborasi harus dijaga agar tidak berhenti ketika sebuah kegiatan selesai,” tegas Aidil.
Memasuki tahun ketiganya, Rembuk Pemuda memandang penguatan ekosistem gerakan sebagai proses jangka panjang. Dengan jaringan yang telah terbentuk di 29 provinsi, organisasi ini berupaya terus menghubungkan potensi orang muda dengan kebutuhan nyata di masyarakat, sekaligus memperkuat ruang kolaborasi yang memungkinkan inisiatif di tingkat daerah terhubung dengan tantangan pembangunan nasional.
Bagi Rembuk Pemuda, ukuran keberhasilan gerakan tidak semata-mata terletak pada luasnya jaringan atau banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga pada kemampuan membangun kerja bersama yang konsisten dan menghasilkan manfaat. Melalui semangat Berembuk, Beraksi, dan Berdampak, Rembuk Pemuda ingin mendorong agar gagasan orang muda tidak berhenti sebagai wacana, melainkan berkembang menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat dan masa depan Indonesia.