Berbusana ala Gadis Kretek, Teuku Riefky Sambut Delegasi WCCE 2026: Cerita Lokal Bisa Mendunia

ANP • Monday, 26 Oct 2026 - 13:49 WIB


Jakarta – Sebuah cerita bisa memulai perjalanannya dari halaman novel, hidup di layar, lalu menyeberangi batas negara dan menjangkau penonton dunia. Perjalanan itulah yang ingin ditunjukkan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya melalui pilihan busananya saat menyambut para delegasi World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta. Bersama sang istri, Adinda Yuanita, Teuku Riefky mengenakan busana yang terinspirasi dari.serial Indonesia Gadis Kretek dalam acara welcoming dinner WCCE 2026 di Akasta, Jakarta, Rabu (21/10) malam.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Di balik kebaya janggan dan beskap yang identik dengan nuansa serial tersebut, tersimpan contoh bagaimana kekayaan budaya dan cerita lokal dapat.dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai tinggi. Diadaptasi dari novel karya Ratih Kumala, Gadis Kretek membawa kisah Indonesia ke layar.internasional. Saat dirilis, serial tersebut mencatatkan prestasi di tangga popularitas Netflix, termasuk menembus jajaran 10 besar global. Perjalanan ini memperlihatkan bahwa karya yang berakar pada sejarah dan budaya Indonesia memiliki peluang untuk menjangkau audiens jauh melampaui tempat cerita itu dilahirkan.

“Ini menjadi contoh bagaimana karya sastra lokal dapat menjangkau pasar global dan.berkembang menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi,” menjadi pesan yang disampaikan.Teuku Riefky dalam sambutannya..Bagi Menteri Ekonomi Kreatif, potensi semacam itu tidak hanya hadir dalam film atau serial..Ketika sastra bertemu dengan produksi audiovisual, desain busana, seni pertunjukan, musik,.dan berbagai subsektor lain, sebuah cerita dapat melahirkan pengalaman kreatif yang lebih luas.sekaligus membuka peluang ekonomi bagi banyak pelaku.

Semangat itulah yang terasa dalam jamuan makan malam penyambutan para delegasi WCCE.2026 di Akasta, ruang yang memadukan kuliner, teater, dan pertunjukan dalam satu pengalaman. Para tamu tidak hanya menikmati hidangan, mereka juga diajak melihat sekilas kekayaan cerita dan kemampuan kolaborasi kreatif Indonesia.

Teuku Riefky menyambut para menteri, duta besar, anggota International Steering Committee, pembicara, pelaku kreatif, mitra, serta peserta yang datang dari berbagai negara untuk mengikuti konferensi tersebut. Ia mengapresiasi partisipasi para delegasi dalam pertemuan Friends of Creative Economy dan kunjungan.ke Creativillage yang berlangsung pada hari yang sama.

Menurutnya, kolaborasi merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang kuat dan inklusif. Karya yang menjangkau pasar global lahir dari banyak.disiplin, pertemuan berbagai talenta, gagasan, komunitas, dan bidang usaha.

Pesan itu menjadi pengantar menjelang pembukaan hari berikutnya, ketika WCCE memasuki.agenda pleno dan pertemuan tingkat menteri. Mengusung tema “Inclusively Creative:.Collective Continuity”, edisi kelima konferensi ini diharapkan menjadi ruang bagi negara-negara dan para pemangku kepentingan untuk mengubah dialog menjadi arah.bersama, serta gagasan menjadi inspirasi bagi masa depan ekonomi kreatif global.

“Malam ini bukan hanya tentang perayaan. Malam ini adalah tentang keterhubungan,” ujar Teuku Riefky dalam sambutannya.

Malam itu pun menjadi lebih dari sekadar jamuan penyambutan. Melalui perpaduan cerita,.busana, kuliner, teater, dan pertunjukan, Indonesia memperlihatkan bagaimana kreativitas.dapat menjadi bahasa bersama yang menghubungkan orang-orang dari latar belakang berbeda.

Seperti Gadis Kretek yang membawa cerita lokal ke layar dunia, WCCE 2026 diharapkan membuka jalan bagi semakin banyak karya dan talenta Indonesia di panggung global.