PPTSB Sedunia Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dan Boru Berhasil Lestarikan Warisan Leluhur Mual Toga Sinaga

ANP • Saturday, 24 Oct 2026 - 17:54 WIB

Samosir – Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dan Boru, PPTSB SEDUNIA berhasil melestarikan warisan leluhur dan budaya Mual Toga Sinaga melalui media sosial TikTok. Pelestarian Warisan leluhur Mual Toga Sinaga ini dilakukan oleh Seluruh Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dan Boru - Sedunia melalui akun resmi @pptsbpusatofficial. Dalam pelaksanaan ini telah dilakukan acara adat dan peletakan batu pertama yang diintensifkan sejak Tanggal 09 Oktober 2026 di Urat, Samosir.

Pembangunan Warisan leluhur Mual Toga Sinaga ini dilakukan karena perlunya kita menjaga nilai-nilai budaya dan warisan leluhur Toga Sinaga dengan melakukan napak tilas dan melestarikanya dengan cara Paulihon Mual Toga Sinaga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. PPTSB SEDUNIA dinilai berhasil mengangkat kembali eksistensi dan nilai sakral dari peninggalan leluhur Mual Toga Sinaga yang selama ini nyaris terlupakan oleh generasi penerus.

Yang menjadi aktor utama dalam gerakan ini adalah Hasudungan Sinaga (Labura), Adi Bernhard Sinaga (Bogor), Herwin Hamonangan Sinaga (Semarang), Nasib Maslinton Sinaga (Cilacap), Desmon Sinaga (BSD), Riduan Sinaga (Bengkulu) melalui Media Sosial Tiktok PPTSB SEDUNIA dan disambut oleh seluruh Pomparan Toga Sinaga Dan Boru dari berbagai Wilayah, Cabang, sektor, dan seluruh pomparan sedunia yang terdata 1,05 Juta jiwa bersatu melalui media sosial tiktok sebagai pusat inisiator, yang berkolaborasi dengan tokoh adat, budayawan, dan para pemuda-pemudi Sinaga yang melek teknologi.

Yang dilakukan oleh PPTSB SEDUNIA adalah dengan melakukan dokumentasi visual secara komprehensif terhadap situs Mual Toga Sinaga, mulai dari prosesi napak tilas, ritual pembersihan mual secara adat, hingga penuturan kisah lisan dari tetua adat yang menjaga situs tersebut secara turun-temurun. Semua dokumentasi tersebut kemudian diolah menjadi konten sinematik yang edukatif dengan narasi yang kuat tentang filosofi Mual Toga Sinaga dan makna air dalam kehidupan orang Batak.

Sairon Sinaga sebagai Wakil Ketua umum PPTSB dan selaku penasehat pembangunan menjelaskan “bahwa inisiatif untuk mengangkat kembali Mual Toga Sinaga melalui media TikTok dilatarbelakangi oleh keprihatinan mendalam akan terjadinya distorsi budaya di kalangan generasi muda. Menurutnya, banyak Pomparan Toga Sinaga yang lahir dan besar di perantauan tidak lagi mengenal tarombo dan asal-usulnya.”

“Mual Toga Sinaga sendiri bukan sekadar mata air biasa. Dalam kosmologi dan sejarah Batak, Mual Toga Sinaga tersebut merupakan sumber air kehidupan Toga Sinaga, leluhur marga Sinaga, bermukim, membersihkan diri dan memulai peradaban Pomparannya di Tanah Batak, tepatnya di kawasan Desa Urat II, Samosir. Air yang mengalir dan tidak pernah kering dari mual tersebut dipercaya memiliki nilai spiritual sebagai simbol kesucian, kesuburan dan kesinambungan garis keturunan yang tidak pernah putus hingga hari ini”. Ujar Sairon Sinaga, Sabtu, (24/10/2026).

Parluhutan Sinaga juga menyampaikan apresiasi yang sangat luar biasa terhadap PPTSB SEDUNIA yang telah memberikan atensi kepada warisan leluhur Toga Sinaga, “Saya sangat berterimakasih kepada PPTSB SEDUNIA telah berhasil mempersatukan seluruh pomparan Toga Sinaga melalui TikTok, dan saya telah menghibahkan tanah tempat lokasi Mual Toga Sinaga tersebut kepada seluruh Pomparan Toga Sinaga disaksikan dan ditandatangani oleh kepala desa, Raja Bius, dan seluruh Pomparan Toga Sinaga agar melihat bahwa Mual Toga Sinaga adalah identitas kolektif yang harus dijaga. Mual adalah bukti fisik bahwa leluhur kita pernah ada, hidup dan meninggalkan nilai. Jika warisan fisik dan spiritual ini hilang, maka hilang pula jati diri kita sebagai Pomparan Toga Sinaga. Kami tidak ingin generasi mendatang menjadi generasi yang kehilangan akar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pilihan untuk menggunakan TikTok sebagai medium pelestarian adalah sebuah strategi kebudayaan yang disengaja. “Kami harus masuk ke ruang di mana anak-anak muda kita berada. Kami tidak bisa memaksa mereka kembali ke kampung dengan cara-cara lama. Kami harus menjemput mereka di dunia digital. Melalui TikTok kami sampaikan bahwa adat itu tidak kuno, adat itu hidup dan relevan,” tegasnya.

Hasudungan Sinaga, menekankan nilai sakral dari Mual tersebut yang harus dipahami secara utuh. “Mual Toga Sinaga adalah pangurason. Airnya adalah air kehidupan. Dahulu opung kita menggunakan air dari mual ini sebagai sumber kehidupan dan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat Desa Urat II, Samosir. Menjaga mual berarti menjaga berkah leluhur,” katanya.

Oppung Gilbert Sinaga, yang merupakan penjaga Mual Toga Sinaga memberikan kesaksiannya “Selama ini kami hanya menjaga Mual ini dengan doa dan dengan ritual sederhana. Kami khawatir jika kami sudah tiada, tidak ada lagi yang tahu cerita tentang Mual ini. Apa yang dilakukan oleh PPTSB SEDUNIA melalui TikTok ini telah membuka mata dunia dan seluruh Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dan Boru. Kini anak cucu kami yang di perantauan bisa melihat langsung Mual leluhurnya, mereka bisa merasakan kerinduan untuk pulang,” ungkapnya.

PPTSB SEDUNIA telah berhasil membalikkan paradigma bahwa pelestarian budaya harus selalu dilakukan secara konvensional dan seremonial. Di tengah gempuran budaya asing, PPTSB SEDUNIA justru berhasil menggunakan budaya asing dalam hal ini platform digital untuk memperkuat budaya sendiri.

Raja Bius Kaliamar Sinaga, menilai langkah PPTSB SEDUNIA sebagai model pelestarian budaya yang ideal di era posmodern. “Apa yang dilakukan PPTSB SEDUNIA adalah bentuk dari cultural branding yang sangat cerdas. Mereka tidak hanya melestarikan situs fisik Mual Toga Sinaga, tetapi mereka melestarikan memori kolektif, melestarikan narasi dan melestarikan kebanggaan. Ini adalah pelestarian holistik yang melibatkan aspek historis, spiritual dan digital sekaligus,” jelasnya.

Ia melanjutkan bahwa keberhasilan ini seharusnya menjadi inspirasi bagi marga-marga lain di tanah Batak. “PPTSB SEDUNIA telah memberikan contoh bahwa Media Sosial TikTok bisa menjadi museum digital, bisa menjadi perpustakaan adat yang hidup. Jika semua marga melakukan hal yang sama, maka kekayaan budaya Batak tidak akan pernah punah,” ujarnya.

Renhard Sinaga dan Masyarakat yang berdomisili di Desa Urat II, Samosir mengungkapkan dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat . “Saya dan masyarakat Desa Urat II, Samosir sangat antusias dan mendukung gerakan yang dilakukan oleh PPTSB SEDUNIA melalui media sosial TikTok yang telah berhasil mempersatukan seluruh Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dan Boru melalui pembangunan dan pelestarian Mual Toga Sinaga, sebagai sumber mata air yang sangat bermanfaat untuk masyarakat Desa Urat II, Samosir” tuturnya.

Melalui keberhasilan Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dan Boru dalam pelestarian berbasis media sosial Tiktok PPTSB SEDUNIA tidak hanya berhasil melestarikan peninggalan leluhur berupa sumber mata air, tetapi juga berhasil melestarikan kesadaran dan kebanggaan seluruh Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dan Boru di seluruh dunia. Gerakan ini akan menjadi modal utama dan dideklarasikan secara resmi dalam Musyawarah Besar XVI PPTSB Sedunia Tahun 2026 di Hotel Aryaduta Medan pada tanggal 29 Oktober sampai dengan 01 November 2026 yang akan disiarkan secara live streaming di TikTok Resmi PPTSB SEDUNIA @pptsbpusatofficial sebagai momentum kebangkitan budaya dan warisan leluhur Toga Sinaga menuju pengakuan Warisan Budaya Takbenda Nasional.