
JAKARTA – Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) memperkuat kapasitas kepemimpinan perguruan tinggi melalui program APTISI Executive Rector Leadership Academy (AERLA) Angkatan I.
Program yang berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 ini diikuti 40 rektor perguruan tinggi swasta (PTS) unggul. APTISI berharap program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pengembangan kompetensi kepemimpinan bagi ribuan pimpinan kampus di Indonesia.
Ketua Umum APTISI, Budi Djatmiko, mengatakan standardisasi kompetensi pimpinan pendidikan telah menjadi gagasan yang dibahas sejak 2014. Menurut dia, kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring perubahan teknologi dan tantangan pengelolaan perguruan tinggi.
“Salah satu yang saya bicarakan waktu sarapan pagi dengan Pak Prabowo adalah standardisasi. Standardisasi rektor sampai kepala sekolah SD itu tidak terstandar, sampai dosen dan guru juga tidak standar,” kata Budi di Jakarta, Rabu (21/10).
Ia menjelaskan, pembahasan bersama APTISI dan Kemendiktisaintek kembali menguat sejak Juni 2025. Melalui AERLA, para rektor diharapkan dapat berbagi pengalaman dan ikut memperluas pengembangan kepemimpinan kepada pimpinan perguruan tinggi lainnya.
Budi menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan disrupsi teknologi menuntut kampus menyesuaikan sistem pendidikan. APTISI juga memperkenalkan konsep Education 6.0 sebagai gagasan untuk mempersiapkan pimpinan kampus menghadapi perubahan pendidikan pada masa mendatang.
“Kami mengatakan Education 6.0, bahwa pendidikan di tahun 2035 itu berbeda sekali. Oleh karena itu kami harus mempersiapkan lebih dini para rektor, pimpinan perguruan tinggi, untuk menghadapi perubahan,” ujarnya.
Menurut Budi, perguruan tinggi perlu memperluas pendekatan pembelajaran dan tidak hanya bergantung pada ruang kelas maupun fasilitas fisik. Karena itu, pengembangan kepemimpinan juga perlu mencakup transformasi digital, kolaborasi, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan global.
Transformasi Perguruan Tinggi
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek, Khairul Munadi, mengapresiasi inisiatif APTISI tersebut. Ia menyebut kepemimpinan sebagai salah satu faktor penting dalam transformasi perguruan tinggi.
“Dalam konteks memajukan perguruan tinggi atau mentransformasi perguruan tinggi, salah satu kuncinya adalah pada leadership atau kepemimpinan,” kata Khairul.
Menurut dia, AERLA melengkapi upaya kementerian dalam mengembangkan kepemimpinan pendidikan tinggi, termasuk melalui program bagi pimpinan perguruan tinggi negeri dan calon pemimpin masa depan, Future Leaders.
"Kolaborasi dengan organisasi perguruan tinggi dapat memperluas jangkauan peningkatan kompetensi pimpinan kampus, mengingat besarnya jumlah perguruan tinggi di Indonesia," imbuhnya.
Rangkaian AERLA Angkatan I berlangsung selama tiga hari dengan materi mengenai kebijakan pendidikan tinggi, kemitraan industri, pengembangan riset, serta pemanfaatan AI. Kegiatan pada Rabu (21/10) berlangsung di Auditorium Kemendiktisaintek, Jakarta, dan dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto serta Utusan Khusus Presiden Hashim S. Djojohadikusumo.
Agenda berikutnya mencakup diskusi bersama akademisi, pejabat pemerintah, dan pimpinan badan usaha milik negara. Program dijadwalkan berakhir pada Jumat (23/10) dengan pembahasan kampus berbasis AI dan prosesi wisuda peserta.
APTISI berharap program tersebut dapat menjadi salah satu upaya memperkuat tata kelola perguruan tinggi swasta, meningkatkan kualitas kepemimpinan, serta mendorong kampus lebih responsif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat.