FILM Beware Boiúna, Menembus Lebatnya Amazon yang Lestari

MUS • Tuesday, 20 Oct 2026 - 20:05 WIB

Genre: Horor, thriller
Sutradara: Mike P. Nelson
Pemeran: Kiana Madeira, Jessica Rothe, Logan Marshall-Green
Durasi: 1 jam 40 menit
Mulai tayang di bioskop Indonesia: 16 Oktober 2026

Lebatnya hutan Amazon yang lestari kembali menjadi panggung sinematik mencekam lewat karya terbaru sutradara Mike P. Nelson, Beware Boiúna. Ceritanya tentang sekelompok tim medis yang diteror ular raksasa purba, horor ini sebenarnya menyimpan sebuah metafora ekologis yang mendalam. 

Beware Boiúna mendobrak pakem kisah monster biasa dengan menjadikannya suatu penggambaran sinematik yang mengapresiasi kemurnian alam sekaligus menyuarakan pentingnya kelestarian hutan. Pesan yang begitu kuat di tengah bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sekitar kita. 

Apalagi para sineasnya mampu menangkap lanskap Amazon yang memukau. Mengambil lokasi syuting langsung di pedalaman hutan Kolombia, penonton disuguhkan visual vegetasi rimbun, kelembapan udara yang seolah terasa di kulit, hingga aliran Sungai Curuçá yang megah namun menyimpan misteri.

Alih-alih mengeksploitasi hutan hanya sebagai latar tempat pertumpahan darah, Amazon ditampilkan sebagai entitas yang hidup. Pengambilan gambar yang kaya warna dan detail flora-fauna memberikan apresiasi tinggi pada ekosistem hutan hujan tropis yang masih terjaga. Hutan dalam Beware Boiúna digambarkan bukan sebagai tempat yang harus ditaklukkan, melainkan sebuah ruang sakral yang menuntut penghormatan dari siapa pun yang memasukinya.

Di tengah atmosfer hijau yang intimidatif, performa Jessica Rothe sebagai Alli, sang mahasiswi kedokteran, menjadi jangkar emosional yang sangat kuat. Sutradara Nelson secara cerdas sering menggunakan teknik close-up ekstrim untuk menyoroti ekspresi wajah para tokoh utamanya, terutama saat menghadapi dualisme ancaman dari keserakahan manusia dan sang predator purba.

Sorotan tajam mata tokoh utama di sepanjang film berhasil mentransmisikan rasa cemas, keputusasaan, hingga determinasi untuk bertahan hidup langsung ke kursi penonton. Karakter Alli dan Lena (Kiana Madeira) tidak digambarkan sebagai pahlawan super, melainkan manusia biasa yang matanya memancarkan ketakutan nyata saat menyadari bahwa di dalam hutan ini, teknologi modern barat tidak lagi memiliki kuasa.

Menariknya, elemen visual yang repetitif namun efektif terbangun melalui shot detail pada mata yang berulang kali melotot. Detail ini muncul dalam berbagai konteks yang kontras. 

Mata manusia yang terbelalak ketakutan, saat para karakter berhadapan langsung dengan bayangan Boiúna yang masif di sela-sela pepohonan. Selain itu, mata para perambah hutan, menjelang ajal mereka,  yang melotot mencerminkan horor sekaligus penyesalan instan atas keserakahan yang mereka lakukan terhadap alam.

Sementara mata Boiúna sendiri, sang ular legendaris—yang dalam mitologi lokal disebut sebagai "mother of the waters"—memiliki sorotan mata purba yang dingin dan menghakimi. Mata melotot sang predator seolah menegaskan pengawasannya atas setiap jengkal perusakan yang dilakukan manusia di wilayah kekuasan. 

Pada akhirnya, Beware Boiúna mengingatkan kita soal kelestarian hutan Amazon—dan hutan-hutan lain di dunia—bukanlah sebuah pilihan, melainkan harga mati untuk kelangsungan hidup umat manusia itu sendiri.